BOOK REVIEW | JOHN GREEN - LOOKING FOR ALASKA

by - October 04, 2019

looking for alaska - john green book review


Ingin mendapat rekomendasi buku novel yang ringan ceritanya ? Looking For Alaska bisa menjadi pilihannya. Apalagi buat yang lagi belajar literasi bahasa Inggris. Ceritanya ringan, gaya bahasanya gaul dan yang pasti kisahnya pun menarik karena relate sama kehidupan kita, hehehe... Kayak gimana sih ? Ini dia ulasannya. 

BOOK REVIEW | JOHN GREEN - LOOKING FOR ALASKA





⭐⭐⭐⭐



JUDUL : LOOKING FOR ALASKA
PENULIS : JOHN GREEN
GENRE : YOUNG ADULT
TAHUN PENERBITAN : 2005
ISBN :   9780142402511
JUMLAH HALAMAN : 221
BAHASA : INGGRIS


BLURB


Before. Miles “Pudge” Halter is done with his safe life at home. His whole life has been one big non-event, and his obsession with famous last words has only made him crave “the Great Perhaps” even more (Francois Rabelais, poet).

He heads off to the sometimes crazy and anything-but-boring world of Culver Creek Boarding School, and his life becomes the opposite of safe. Because down the hall is Alaska Young.

The gorgeous, clever, funny, sexy, self-destructive, screwed up, and utterly fascinating Alaska Young. She is an event unto herself. She pulls Pudge into her world, launches him into the Great Perhaps, and steals his heart. Then. .

After. Nothing is ever the same.

THE REASON I READ


Saya tertarik membaca buku ini, gara-gara buku The Fault In Our Star. Ngomong-ngomong, saya sudah membaca buku ini 5 tahun yang lalu loh. Hahaha.. Dulu saya pernah membuat postingan review tentang buku ini, sayangnya saat itu isinya masih acak adul banget. Walhasil saya hapus.

Setelah saya belajar membuat review buku, akhirnya saya tulis ulang dengan susunan yang lebih terstruktur dan informatif. 

Alasan lain kenapa saya membaca buku ini, karena bahasa yang digunakan merupakan bahasa sehari-hari alias tidak puitis. Saya memang bukan (calon) pujangga yang mampu menangkap indahnya bahasa puisi. 

Saya adalah pembaca yang mau gampangnya aja terlebih yang berhubungan dengan pilihan katanya. Bagi pembaca dalam taraf belajar bahasa Inggris kayak saya ini, isi buku ini mudah dipahami kok. 

Kalo kalian gak suka membaca pake bahasa aslinya, kalian bisa membeli buku terjemahannya. 

Saya dulu pernah membeli terjemahan buku ini, tapi entah kenapa terjemahannya justru malah membuat saya bingung. Ya.. Mungkin bahasa yang digunakan terlalu kelihatan banget bakunya, sehingga logika bahasa diabaikan. Walhasil malah bikin saya jadi bingung. 

Satu hal lagi, motivasi saya membaca buku ini adalah, karena saya ingin membaca setiap buku yang dikeluarkan oleh John Green. Hahhaaa... Sok iye ! 

CHARACTER


Miles Halter (Pudge) adalah siswa di Culver Creek yang hobi membaca buku biografi. Perawakannya tinggi dan kurus. Bagi saya Miles ini sosok yang unik dan cerdas. Unik karena tak banyak remaja yang hobi membaca tentang biografi (jika dibandingkan dengan di Indonesia, hihi.. ). Karena umumnya orang-orang lebih menyukai membaca novel atau komik.

Keunikan lainnya yang dimiliki Miles adalah dia mampu menghafal apa yang yang diucapkan orang terakhir kali. Selain itu dia adalah pribadi yang mandiri dan memiliki rasa penasaran yang tinggi.

Chip Martin (The Colonel) adalah teman sekamar Miles yang juga merupakan siswa di Culver Creek. Chip memberi julukan dirinya dengan nama Colonel. Dia juga seseorang yang suka membaca buku dan puisi. Salah satu yang saya suka dari Chip adalah sikapnya yang apa adanya dan gak banyak drama. Dia hanya perlu mengatakan apa yang harus dia katakan.

Alaska Young adalah siswi Culver Creek (pastinya Vva). Dia orang yang bawel tapi sesungguhnya dia menyembunyikan banyak hal tentang hidupnya. Salah satu anggota squad Colonel, yang mudah bergaul, sulit diprediksi dan lebih liar dibandingkan Miles. Dia lebih berani mengambil resiko dan menjadi troublemaker karena untuk menutupi rasa kesepian dan kesedihan.

Lantas, apa istimewanya Alaska hingga dia menjadi tokoh yang ada dalam judul buku ini ?

Hmm.. Kalian harus membacanya sendiri. Nanti kalo saya lanjutkan ceritanya, takut spoiler. Hahaha..

MY IMPRESSION


Giphy

Dilihat dari judul, tadinya saya mengira buku ini menceritakan tentang kisah perjalanan menuju ke Alaska. Haha.. Beginilah kalo kita mudah terjebak dengan sebuah judul. Hihihi.. menyesatkan. 

Begitu saya membaca Blurbnya, saya baru sadar bahwa Alaska adalah nama seorang gadis. Hihihi.. wadidaw jiwa ini. 

Kisah Looking For Alaska ini seolah menginspirasi konten yang lagi marak di sosial media belakangan ini (Sa ae cocokloginya Vva !).

Prank yang lagi marak menjadi konten di Youtube saat ini, ternyata sudah menjadi bagian hidup remaja Amerika di tahun 2005. Well, setidaknya buku ini ini kan diterbitkan di tahun itu. Bahkan mungkin budaya prank ini sudah ada lebih lama dari tahun itu. 

Buku ini sebenarnya menggambarkan bagaimana kehidupan remaja pada umumnya. Ya kadang masih labil, kadang masih ingin coba-coba, butuh pengakuan atau bahkan mulai sangat frustasi dengan kehidupan ini.  

Baca Juga : BOOK REVIEW PAPERTOWNS - JOHN GREEN

Di masa ini biasanya kita akan merasa *bangga* saat kita bisa berada dalam suatu masalah yang berhubungan dengan pelanggaran. Masa di mana melanggar adalah hal yang sangat keren, dan keluar dari masalah itu berasa memiliki superpower. Ya, kelak akan menjadi sebuah cerita yang bisa dipamerkan. 👀

Padahal ya.. ? Saat kita dewasa dan tua nanti, kadang kita akan merasa malu betapa tak berfaedahnya hidup kita dulu. Hahaha.. Tapi itulah masa remaja. Masa penuh coba-coba.

Itu juga yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita ini. Tokoh Miles yang digambarkan sangat unik dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Biasanya nie, tokoh seperti Miles ini adalah anak yang tadinya lugu tapi kemudian ikutan terjerumus bareng ama teman-temannya, tapi tetap dia yang paling normal di antara yang lain.

Colonel ini semacam ketua gank (biang kerok) yang gak mau ambil pusing sama peraturan yang ada dan masa bodo sama omongan orang di sekitarnya Sementara Alaska adalah teman yang provokatif dan bikin kita gak bisa nolak kalo diajakin bertingkah, ngeselin tapi juga ngangenin. 

Meski kisah ceritanya tak persis seperti kisah kita, tapi cerita buku ini seolah mengingatkan saya kembali akan masa saya masih sekolah dan kuliah dulu. Kalo dianalogikan dari 3 tokoh di atas, mungkin saya adalah si Alaska (ngaku-ngaku Vva !) 🤣🤣🤣.

Salah satu hal yang menjadi sorotan saya saat membaca buku ini adalah tentang format jalan ceritanya. Jika biasanya Novel dibuat per chapter, Looking For Alaska berdasarkan Counting Days (hitungan hari).

Jika kalian ingin bernostalgia tentang masa sekolah, buku ini bisa mengingatkan kenangan kita di jaman itu. 

Masa di mana bisa berdebat dengan guru itu suatu achievement karena merasa berani. Kenakalan seperti bolos sekolah di tengah mata pelajaran, nongkrong di kantin tapi ngakunya ke WC, dll. 

Hayooo... ! Siapa yang pernah kayak gini ? Ngaku !

WHAT I LEARN




Membaca buku buat saya itu selalu ada efeknya. Entah kadang berasa menghibur dengan rasa tanggung dan menggantung, atau justru mendapatkan pandangan dan pelajaran baru tentang hidup ini.  Minimal bisa merasakan seolah ini adalah cerita kehidupan kita dengan versi yang berbeda. 

Mencari jati diri rasanya memang hampir dilakukan oleh semua orang. Selalu ada perubahan yang akan terjadi dalam hidup kita. Teman, lingkungan, ilmu pengetahuan adalah sedikit faktor yang menyebabkan kita bisa berubah menjadi apa saja. Bahkan bisa berubah 180% dari keadaan semula. 

Ada juga pribadi yang seringkali menyembunyikan pribadi dia sesungguhnya. Misalnya saja seperti Alaska, yang meskipun dia sangat percaya diri di hadapan banyak orang tapi sebenarnya dia memiliki beban hidup yang ingin dia sembunyikan. Rasa bersalahnya, rasa kesedihannya, rasa kehampaannya dia tutupi dengan segala tindak tanduk yang liar. 

Tanpa disadari kitapun kadang juga seperti itu, untuk menutupi kekurangan, kita berusaha menampilkan kesan tangguh dan tak terkalahkan di hadapan banyak orang. 

Tapi itulah hidup. Kita tak akan pernah bisa bertahan dengan cara yang sama berkali-kali. Setidaknya memang kita harus berani mengambil resiko untuk berubah. Yang penting harus berhati-hati, jangan sampai perubahan tersebut justru menjebak kita dalam penderitaan yang tak berkesudahan.

FAV. QUOTE



john green quote


Ungkapan yang sama seperti yang saya alami belakangan ini. Rasanya tuh kapan saya bebas dari penderitaan ini ? Apakah kematian akan menjadi jawabannya ? Belum tentu juga kan ? siapa yang akan menjamin kita tak akan menderita setelah kita mati ? 

Kadang yang membuat saya putus asa itu adalah ketika penderitaan itu justru datang dari orang-orang yang saya harapkan akan melindungi saya. Rasa kecewa, marah, kesal bahkan tidak percaya justru malah menambah penderitaan yang makin mendalam. 

Mungkin itulah kenapa kita jangan pernah 100 persen menyandarkan hidup kita kepada manusia. Bersandarlah pada yang memberi kehidupan, niscahya penderitaan bisa sedikit berkurang.   

RECOMMENDATION 

rekomendasi buku dari ewafebri



Bagi yang ingin membaca di akhir pekan dan ingin mendapatkan hiburan dengan cerita yang ringan, Looking For Alaska bisa menjadi pilihannya. Apalagi buat teman-teman yang ingin memperlancar bahasa Inggrisnya nie, buku ini bisa digunakan untuk belajar sambil bernostalgia. 

Looking For Alaska sendiri merupakan Novel pertama John Green yang dirilis tahun 2005 dan mendapatkan penghargaan Michael L. Printz Award. Buku ini juga terinspirasi dari pengalaman John Green sendiri.

Buat teman-teman yang bingung nyari toko buku online, kalian bisa mencoba di Bolehbaca. Ada banyak pilihan buku yang dijual atau sekedar dipinjamkan di sana. 

evaBLG004


Dan apabila kalian ingin mencari mentor atau pengajar les privat untuk sekolah maupun persiapan beasiswa, kalian bisa menggunakan kode di atas untuk mendapatkan diskon Rp. 50.000, khusus fitur Boleh Belajar dan Boleh Beasiswa ya ? lumayan kan ?

(Postingan ini ada kode untuk affiliate linknya, dimana jika kalian menggunakan kode tersebut, Blog ewafebri akan mendapatkan komisi yang akan digunakan untuk membayar hosting dan domain Blog. Terima kasih).

HAPPY READING !

You May Also Like

0 comments