JANGAN BERHENTI KULIAH DI TENGAH JALAN ! NANTI MENYESAL !

by - December 12, 2018

Jangan Berhenti kuliah !


Tema ter-Menyesakkan dada selama challenge ini. Memori yang ingin saya kubur, tapi juga ingin saya jadikan pelajaran hidup. Pingin pake tema pengganti sih, tapi pingin berani jujur sama diri sendiri juga. Hahhaa.. Dilema ini judulnya. Mumpung temanya mengena banget, sekalian saya curhat. Siapa tahu setiap membaca postingan ini lagi, saya jadi gak gampang menyerah. Hehhe.. ! Berat memang saat mengingat kembali, tapi saya akan jadikan hari ini titik balik untuk bersemangat lagi. Hihi..  Apa sih yang paling saya sesali sampai saat ini. 

PUTUS KULIAH DI TENGAH JALAN


Hal yang paling saya sesali adalah tidak melanjutkan kuliah karena satu dan lain hal. Postingan Blog kali ini sebagian besar adalah curhatan dan juga reminder buat adik-adik yang cepat sekali menyerah kayak saya. Percayalah, penyesalan itu adanya di belakang. Gak pernah ada di depan. Hihihi..



Saya akan cerita sedikit tentang sejarah perjalanan sekolah ewafebri. Saya dulu lahir dan besar di kota Banyuwangi. Ujung timur pulau Jawa. Tepatnya saya menghabiskan masa sekolah saya di kota kecil yang namanya Genteng

Sekolah Dasar saya berada di dusun Kembiritan, desa kecil yang masuk wilayah kecamatan Genteng. Menginjak SMP saya melanjutkan di SMP Negeri 1 Genteng. Sekolah yang menurut saya saat itu sangat Favorit dan yang terbaik. Lulusannya Kece-kece banget sekarang, sayangnya tidak termasuk saya. Hahhaa..

Menginjak Sekolah Menengah Atas, saya melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Genteng. Yang terkenal dengan sebutan SMADA Genteng. Sekolah yang bebas kemacetan karena sekolah kami sangat mewah (Mepet Sawah). Banyak kenangan yang saya dapet di Sekolah ini, termasuk kenangan saat bolos sekolah lewat area persawahan. Hahha.. (okay ! Don't Try This For Your Own Guys !). 


smada genteng banyuwangi
Credit : Kemendikbud 


Saat SMA saya memilih kelas Bahasa. Pertimbangannya saat itu saya pikir pelajarannya lebih santai dibandingkan IPA atau IPS (kalian pasti tahu saya anak jaman kapan.. hahha.. kalo sekarang kan udah beda, entah IPA atau IPS masih ada atau gak ? ). Nah di kelas Bahasa ada pelajaran Bahasa Jepang, Bahasa yang kelak saya ingin pelajari di bangku kuliah. Hehhe.. saya termasuk anak yang aktif di kelas dalam hal bahasa Jepang, walaupun bukan yang terpintar 😂 (Sayangnya sekarang udah lupa semua). Bahkan Bu Guru saya sempet mengajak saya ikutan lomba pidato bahasa Jepang di Konjen Surabaya. Menang ? Jelas tidak..! Saya hanya tim penggembira. Hahha.. 

Lulus SMA, drama kehidupan pun dimulai. Saat itu saya mengikuti UMPTN (Sama seperti SNMPTN kalo jaman now, hihi.. ). Dan sebenarnya saya diterima ke dalam Jurusan Bahasa Dan Daerah Universitas Jember. Entah kenapa pilihan saya jatuh ke jurusan itu , Padahal saat pendaftaran, seingat saya, saya memilih jurusan Sastra Jepang Udayana dan  Bahasa Inggris di UNEJ. Mungkin saat pendaftaran saya keliru mengisi formulirnya. " Wadezig "..  Tapi karena saya jiper dengan jurusan yang salah (kok bisa salah sih ? Dooooh ), akhirnya saya memilih melanjutkan ke  Universitas Swasta.

UNIKOM Bandung adalah pilihan saya, karena dalam selebaran yang saya terima, di Unikom ada jurusan Bahasa Jepang. Bahagia donk ! Gak diterima di Udayana, bisa melanjutkan pendidikan di UNIKOM. Saat itu Unikom tergolong Universitas baru, peralihan dari Sekolah Tinggi Bahasa Jerman. Sebelumnya saya juga pernah membahas tentang sekolah ini di postingan Inspiring People : Sofieryu.


Alumnus Unikom Bandung
Credit : Unikom.ac.id


Sesampainya di UNIKOM, saya agak sedikit kecewa. Karena ternyata Bahasa Jepang belum di buka untuk tahun itu. Herannya kenapa dulu saya gak nelpon dulu ya ? Jauh-jauh dari Banyuwangi ke Bandung, hasilnya ZONK ! Hadeeh.. ! Karena udah kepalang tanggung, akhirnya saya milih jurusan seadanya dan semampunya. Setelah melihat-lihat brosur, saya memutuskan masuk ke jurusan Manajemen Informatika. Pertimbangannya sih waktu itu, kalo manajemen gak bakalan banyak pelajaran hitung-hitungan. Ternyata Salah sodara !. Hahaha..

Justru di Manajemen informatika saya terjebak dalam pelajaran Kalkulus, Algoritma, Fisika bahkan Akuntansi. Pelajaran yang selama ini saya hindari saat SMA. Hadeeeh.. Buang Permata, kena batunya. Hahhaa..

Pada saat itu saya mengambil program Diploma 3, karena dari awal saya tahu bakalan sesak nafas belajar Informatika. Hahha.. lagi pula kala itu rencana saya sebenarnya adalah ingin mengikuti ujian UMPTN selanjutnya di UPI Bandung untuk program Bahasa Jepang. Tapi namanya rencana terkadang tinggal rencana ya Gaes !

Setelah berjuang selama 4 Semester di UNIKOM, saya mulai mengalami gejolak jiwa. IPK mah gak pernah bagus.. huhuhu.. 3,1 udah paling maksimal. Sampai akhirnya saya mengajukan Cuti saat memasuki Semester 5. Pertimbangannya saat itu saya ingin ke Jakarta mencari kerja, untuk uang tambahan. Maklum masa itu keuangan keluarga tidak mencukupi untuk membayar uang kuliah, sewa tempat,  bahkan biaya hidup sehari-hari. Akhirnya dengan berat hati saya ke Jakarta mengadu nasib.



Satu semester telah berlalu, saking sibuknya (entah sibuk ngapain, hahaha), saya lupa kalo harus memperpanjang masa cuti kuliah, atau melanjutkan lagi. O.M.G , tahu-tahu saya udah drop out ! Hadeeh.. ! Saya rasa proses itu yang saya sesali hingga saat ini.

Baca Juga : Blog Challenge Lainnya .



Saya seringkali berandai-andai ..


  • Andai waktu itu saya punya tekad mencari uang tambahan jadi pekerja part time. Jadi gak melulu ngandelin kiriman uang. 
  • Andai waktu itu saya aktif bertanya, terutama ke teman-teman saya tentang informasi registrasi.
  • Andai tahun ke 2 saya benar-benar ikut UMPTN lagi ke UPI
  • Andai saya tetap masuk jurusan Bahasa dan Daerah di Unej.
  • Andai saya punya keberanian untuk memutuskan
  • Andai saya punya keberanian untuk mengambil resiko dan keluar dari zona nyaman. 

Ada banyak daftar andai di kepala saya. Hahha.. Dan saat ini semuanya sudah gak berguna. Untuk menghibur diri, saat itu saya sering mengatakan pada diri sendiri bahwa untuk mendapatkan kerja gak harus selalu menjadi sarjana. Yang penting etos kerja. Kalo kita memiliki kemampuan, pasti uang tak akan ke mana.. (Rumus dari mana ini..  ? Hahhaa.. )




Kenyataannya tak seperti itu Gaes. Di dalam dunia kerja, 1 lembar ijazah yang saya pikir tak akan menentukan masa depan, nyatanya menjadi pertimbangan utama. Baru selanjutnya kemampuan kita bekerja dibuktikan. Hahaha.

Karena itu buat adik-adik yang sedang kuliah dan ingin menyerah ingatlah 4 hal ini :




  • Saat kalian melamar kerja , Ijazah tetap menjadi modal utama. Itu adalah parameter atau acuan yang digunakan perusahaan untuk mengetahui (sekilas) kemampuan kita dalam bekerja. Meski juga didukung dengan wawancara, test psikotes dan lainnya. 
  • Saat kalian sudah diterima, ijazah juga menjadi pertimbangan untuk naik ke jabatan tertentu. Entah dari tidak tetap ke tetap, atau naik 1 level.  ijazah tetap menjadi acuan.
  • Ijazah juga menjadi acuan untuk jumlah gaji kita. 
  • Kemampuan akademis akan dibuktikan saat kita masuk kerja. Tentang etos kerja dan lainnya. Tapi yang utama, Ijazah tetap harus ada. 

Jadi ingat-ingat ! Kalo kalian mau menyerah di tengah jalan, pertimbangkan 1 lembar yang berharga itu. Ingin mendapatkan kehidupan yang layak dan lebih baik, tentu juga harus mempertimbangkan pendidikan. Mau gak mau, tapi memang itu kenyataan yang terjadi. Hihi.. 

Kecuali, jika kalian ingin menghasilkan pundi - pundi dari usaha sendiri. Atau justru bercita-cita ingin membuka usaha untuk diri sendiri dan orang lain. Keuletan bisa menjadi senjata utama yang ampuh. 



Syukur... Alhamdulilah. Meskipun saya melewati jalan berliku, saya bisa menikmati hidup yang layak dan lebih baik. Tak semewah orang lain, tapi saya bisa bersyukur karena kebutuhan primer (sandang, pangan  dan papan - meski kost, hahaha) saya sebagai manusia sudah terpenuhi. 

Yang tersisa saat ini adalah saya sudah tidak ingin meratapi nasib yang telah lalu. Walau kadang penyesalan itu sering kali muncul kembali. Hihihi.. tak apalah menjadi reminder untuk tidak mudah menyerah lagi, dan berani keluar dari zona nyaman yang mengelilingi diri. Saya yakin  jika bukan karena lika-liku tersebut, mungkin saya tak akan menjadi seperti sekarang. Hehhe.. 

Bangkit dan belajar lagi ! Dari sekolah yang sebenarnya, Sekolah Kehidupan ! Hahhaa... 

You May Also Like

51 comments

  1. Kakaaa ngga tau kenapa baca ini banyak haha hihinya tapi feelnya sedih :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah kira-kira.. haha.. mengingatnya menyesakkan dada. Supaya gak sesak tiap hari, harus diceritakan, sapa tahu bisa menjadi pelajaran hidup buat orang lain. 😭😭😭😭

      Delete
  2. Mbak saya juga mengira manajemen informatika itu gampang bebas hitung2an, ternyata tidak semudah itu ferguso (korban judul juga) :""""

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahhaa... Baaah.. ! Logika algoritma, kalkulus, pemrograman.. hadeeeh.. hahhaa... Tapi Alhamdulilah pernah mengenal pelajaran itu. Hahha.

      Delete
    2. Cukup tau XD logika pemrogramannya berguna saat mau mengutak atik blog, ga buta buta banget jadinya huhu

      Delete
  3. Oh ternyata kelam kakak😣😢😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.. hahha.. Tapi tak selamanya harus dibuat kelam.. iya kan.. ? Saatnya bangkit menyongsong masa depan gemilang.. (tsaaah...)

      Delete
  4. Replies
    1. Huhu.. Cerita yang sebenarnya ingin saya kubur dalam-dalam.. tapi saya sadar, makin saya sembunyikan, makin saya takut mneghadapi kenyataan. Hahhaaa... sekarang saya jadi tahu kenapa saya suka self drvelopment, karena itu salah satu cara saya balas dendam dari kegagalan. Hahaa..

      Delete
  5. yaampun, pantes putus ditengah jalan, ternyata gak cocok jurusannya.
    emang berat sih kalo gak suka hitungan tapi terpaksa harus suka. berat, bisa copot kepala. hahaha..
    tapi hebat loh bisa dapet IPK 3.1..

    ReplyDelete
  6. Kisah lain tentang lika-liku kuliah dan kerja. Saya termotivasi mba. Semangat untuk ke depannya mba ewafebri!
    Cerita ini mengingatkan saya dg kisah sekolah nenek saya dulu yang tak beliau selamatkan karena suatu hal. Tak ingin lama meratapi nasib, beliau bisa 'hidup' juga. Kita gak tahu ada kejutan apa di masa depan.
    Mba ewafebri juga bisa jadi lulusan SMP Negeri 1 Genteng yang kece kok. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Terima kasih.. ini salah satu penghiburan buat saya.. hahhaa.. Saya jadi makin semangat menyongsong masa depan. Wuhuuuu... ❤️❤️

      Delete
  7. Mbak, sayang banget enggak diambil jurusan bahasa dan daerah, karena sekarang sangat dibutuhkan di sekolah-sekolah. Maklum bahasa dan kebudayaan daerah sudah mulai pudah saat ini. Tapi ya namanya masa lalu, yang penting sekarang tetap berjuang ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuul.. semoga ini menjadi penyemangat adik-adik jangan sampe salah langkah kayak saya.. hahha..

      Delete
  8. Aku ikut sesek dadanya baca tulisan ini. Padahal tulisan kamu santtai dan banyak ketawanya. Untuk yg masih kuliah dan sedang bosan-bosannya wajib baca ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul mbak.. saya juga buat postingan ini supaya adik-adik yang ingin nyerah itu tetap semangaat. Hahha.. judulnya mah Embrace Your Failure ! Hahhaa...

      Delete
  9. Penyesalan selalu di belakang, kalau di depan namanya persiapan :p wkwkwkw. Kita sama anak Bahasa dooonk ... saya percobaan SMU dulu kurikulum baru :p kelinci percobaan.

    Mau nulis perjalanan kita hampir sama, tapi saya kuatir nanti dibilang: ah, Kak Tuteh ini ikut-ikut saja. Mirip sih, hehe.

    Jadi, saat saya lulus, Mamatua sakit parah, tabungan buat kuliah dipakai untuk pengobatan beliau. Saya jelas lebih milih beliau dooonk ketimbang memaksakan diri lanjut kuliah waktu itu. Begitu kesempatan ada, dipaksa Kakak untuk kuliah, saya malah memilih jalan-jalan sesuka hati ke mana suka, kapan pun saya mau.

    Mempunyai kemampuan memang bagus, tapi ternyata ijazah itu penting. Baru saya sadari di kemudian hari ketika syarat untuk melamar kerja harus ijazah D3 atau S1. Ngotot bahwa kita lebih mampu pun tidak berguna. I-JA-ZAH! Bagaimana mungkin saya bisa meningkatkan karir, misalnya, kalau saya mentok di SMA. Pada akhirnya dengan biaya sendiri saya kuliah. Delay belasan tahun! Hahaha. Dan bisa diwisuda itu Alhamdulillah. Makanya buat adek-adek yang baru mau kuliah, apalagi yang orangtuanya mampu banget, kuliahlah!

    Ayo, Ewafebri Mamaknya Bowgel. Semangat! Kalau masih bisa kuliah lagi, UT pun, sikat :D Tapi semua kembali pada pilihan masing-masing. Yang penting enjoy life haha ;))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kan.. iya kan.. ? Hahaha.. senasib kita, mumpung punya platform curhat, sekalian saya sharing buat adik-adik kita. Cukup kita saja yang mengalami, karena Berat (kyaaaaaa.... Recehkan komen 😂)

      Delete
    2. Hwakakakakak berat bebannya memang :D tapi yang penting tetaaaap semangat! :D

      Delete
  10. Thank you for sharing mbak Ewa. Dan, mbak hebat karna mbak berhasil struggle, dan ngga sekedar menyesali semuanya, tapi menjadikannya pelajaran. Tetep semangat ea mbaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyaaak.. saya jadi makin semangat menyongsong kehidupan. Hihi.. semangat juga buat kamu ! ❤️❤️❤️

      Delete
  11. Jeng.. Sakjane mbacane haha hihi kok sedih ya..
    aku dulu juga hasil psikotes pas sma cocoke bahasa. Tapi ngga ada kelas bahasa jadi masuke ips. Hihi

    Semangat jeng! Alhamdulillah klo udah lebih baik sekarang.. semoga terus lebih baik lagii. aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin. Makasih mbak.. hihi. Sekarang sih nulisnya bisa haha hihi.. tapi dulu mah tiap kali inget, dada sesek.. hahaha.. penyesalan tak berujung. Hahhaa..

      Delete
  12. Semangaaat... Utk kuliah masih bisa lagi lhooooo.. Jd pengen colek Mbak Ewa utk nulis di blog ekspedisimimpi.com..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangaat ! Wah Web apa itu mbak.. kayaknya seru.. ! Jadi pingin berselancar kesana. Hehhee...

      Delete
  13. kok sedih ya saya mbaa.. tapi selalu ada hikmah yang bisa di ambil ya mbaa :") Semangat Mba.. keren kisahnya, inspiratif....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi.. iya selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dari setiap kejadian dalam hidup kita. ❤️❤️❤️ Dan saya beberuntung Tuhan memberikan kesempatan buat saya untuk belajar bertahan hidup. Hehhee..

      Delete
  14. Orang aquarius mah sukanya begini ini, spontan, kadang grudak gruduk, terus nyesel! Wkwkwkwkw

    Tapi ujungnya jadi lebih mudah memahami apa yang uda terjadi terus punya semangat berkobar bikin kondisi lebih baik lagi, eaaa eaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laah ya itu dia. Hahaha.. gradak gruduk.. tapi saiki pinginnya apa aja dicoba lah.. perkara nyesel tetep belakangan.hahha..

      Delete
  15. Tetep smangat mb ewa
    Emang aku dulu ngiranya klo informatika paling kompuyeran doang nda taunya dasarnya itungan kabeh, kalkulus yg bukunya setebel kitab...huks

    Sama sma ku jg mewah alias mepwt sawah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laaah yo itu.. ternyata malah campur aduk pelajarannya. Hahaha.. tak tak kirain macam hafalan aja. Hadeeeh.. ternyata malah banyak itungan.. sekolah mewah itu enak.. tenang suasananya..hahha..

      Delete
  16. gppa ga dapat gelar. suamiku jg ga nuntasin kuliah s2nya krna keburu pindah kota. dia bilang, gelar ga penting, yg penting udah dapet ilmunya.

    iyes betul skr lanjut lagi sekolah di sekolah kehidupan, mari kita cemungudhh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbaak.. hihi.. berdamai dengan masa lalu.. hahha.. semoga saya mampu berdikari sendiri (halaaah.. ) hahha..

      Delete
  17. Ada yang bilang "Sukses sekolah tidak selalu identic dengan sukses hidup"...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, karena sukses hidup adalah bagaimana kita menyikapi problematikanya. (Haiyaaa.. hahha..)

      Delete
  18. Kesalahan itu memang pelajaran paling berharga mba..penyesalan memang nggak bisa dihindari tapi memilih berdamai atau meratapi penyesalan tsb semuanya menjadi tolak ukur kebahagiaan di masa depan :) Tapi aku salah fokus, itu jauh bener yaa dari Bahasa Jepang bantir setirnya ke Informatika 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk.. aku juga merasa emboooh.. njuk sekarang jadi bantet semuanya.. hahha.. bahasa Jepang ilang semua, informatika masih lumayan bisa ngutak-ngatik html Blog.. hahhaa..

      Delete
  19. aku juga korban salah jurusan.
    meski rajin kuliah (karena aku tuh seneng sekolah dan males kerja. hihihihi) tapi pelajaran nggak ada yang nyantol satu pun.
    akhirnya lulus dg ipk lumayan. tapi mari ngono yo bablas angine. semua pelajaran2 menyublim kabeh.

    tapi ya.... semua pengalaman itu berharga. jauh lebih berharga dari sekedar nilai di transkrip ijazah kuliah kita.

    ayo mbak Evv, kalo ada waktu bisa sekolah lagi. semangat!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.. mungkin kalo dulu lancar-lancar saja, Gak akan ada Bowgel di antara kita. Hahhahaa...

      Delete
  20. Sharingnya bagus, demi membuka mata mahasiswa yang yang sepenake dhewek.
    Memang tidak jaminan, kuliah, lulus dg sejalan dg rejeki, smw balik ke usaha dan tekad. Tp jika diberi kesempatan sekolah tinggi ambil dan lakukan dg baik. Stdk ny, ketika org tua masih mampu memberikan pendidikan.

    Ilmu memang bs dpt dri mana sj, bahkan seperti Ibu Susi Pudji, kita tahu kiprah beliau bagaimana, tnp melihat latar pendidikan. Tp intinya mw trs belajar dan krj keras.

    Balik lg, ketika ada kemampuan sklh tinggi, manfaatkan, jgn sia2in.

    Mba luar biasa :) pengalaman jg ilmu yg berharga lho

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.. selama masih mampu bersekolah (biaya dan keadaan), jangan di sia-siain. Entah nanti digunakan atau tidak, sudah saatnya jangan menganggap remeh kesempatan (kyaaaa... Bahasanya.. hahha.. )

      Delete
  21. Wahh keren mbak sharingnyaaa... aku bisa kebayang gimana menyesakkannya drop out karena hal sepele administrasi yaa.. But, you're doing great now, mbakkk :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. hihi.. rasanya saya sudah mampu menghadapi dunia, halaaah... Hahaha.. mereview kehidupan kembali itu menjadikan saya bisa belajar bersyukur...

      Delete
  22. Mbaaa, saluttt sama keberanianmu sharing tentang ini. Semoga jadi pembelajaran buat dek-adek di luar sana yaa. Kuliah tuh nda sembarangan, harus punya niat penuh selama menjalaninya. But what happened at the past, stay at the past. Mba bisa ada kayak sekarang, bisa ngeblog, bikin kita yang baca hepi, ada si Bowgel gemes. You did a good job! (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. mengangkat kisah ini tuh seperti melepaskan toxic dalam hidup hahha.. Dan semacam memberikan kelegaan " now, i can live with it ! ". Kadang makin dicuekin itu kayak hanya tertimbun aja, suatu hari bisa aja muncul lagi. Sekarang saya justru paham kalo " cuek " kadang tak selalu menjadi pilihan yang tepat. " Deal With it " kadang malah jadi solusi untuk jangka panjang. How to deal with it ? Admit and Be Honest !

      Delete
  23. Ya Allah Mbaaak.. kok bisa lupa waktunya bayar itu lho.

    sebenernya, kalau saya lihat, ijazah itu hari ini cuma jadi kertas yang membantu kita untuk memuluskan karier. faktanya, ada banyak sekali orang yang kerja nggak sesuai dengan jurusannya dulu. nggak penting kamu lulusan mana, asal punya ijazah selesai urusan.

    padahal, kita kuliah susahnya bukan main lho. kalau ternyata ijazah hanya sebagai pelengkap berkas administrasi saja, ya nyesek juga sih. bahkan orang yang kuliahnya serius, punya peluang yang sama dengan orang-orang yang ambil kuliah selow-selowan demi ijazah.

    kan ngeselin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itulah mbaak.. 😭 penting buat adik-adik kita, supaya jangan pernah menyianyiakan kesempatan.. 🤭🤭🤭

      Delete
  24. Ikut sedih bacanya, mba. Jalan berliku yang ditempuh mba Febri semoga menjadi pelajaran berharga buat anak-anak muda. Tetap semangat mbak.

    Tahun ini anakku dah kuliah. Kemarin aku tanya, sudah cocok dengan jurusannya. Atau mau nyoba tahun depan. Katanya sih sudah mantap disini. Kalau nggak kan, waktu setahun itu kayak terbuang. Seperti kakak kelasnya yang sudah kuliah di PTN Bandung dan memutuskan untuk keluar. Ya Allah eman. Tapi namanya anak pasti punya alasan logis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. kadangkan jiwa muda kalo memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang. Hihi.. semoga buah hati mbaknya lancar terus sampai akhir. Ijazah kadang terdengar sepele, emang ilmunya yang penting, tapi sayangnya kalo ngelamar kerja, Ijazah tetep jadi primadona. Hahha..

      Delete
  25. Semangat mbaaa..
    Kok baru baca ya saya yang ini :D

    Sebenarnya saya juga merasa salah jurusan.
    Benci hitung2an tapi masuk tehnik Sipil.
    Padahal waktu SD saya suka banget dunia bahasa.
    Menulis, membaca, mengarang bebas.

    Waktu SMP saya suka dunia biologi, saya hafal banyak istilah latin atau apa ya itu namanya.
    Saya juga suka bahasa Inggris, dan sejarah.

    Lah kok lulus SMP malah masuk STM, ckckcck
    Ambil jurusan bangunan gedung pula. berasa lulus mau jadi kuli hahaha

    karena udah kepalang, lulus STM ikut temen daftar jurusan arsitek, gak lulus dong dan bersyukur, atuh maaahh, saya ga berjiwa seni.
    Malah ambil jurusan tehnik sipil yang kalkulusnya serem amat hahaha

    Trus kerjanya di proyek mulu, manalah bisa emak2 punya anak kerja di proyek yang nyaris 24 jam lemburnya hiks.
    Eh ini kenapa jadi curcol di sini ya, kebawa aura melownya mamak si bowgel nih

    ReplyDelete

Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏