INTERSTITIAL JOURNALING : PERPADUAN JOURNALING DAN TIME MANAGEMENT

Interstitial Journaling adalah


[ewafebri.com] | INTERSTITIAL JOURNALING : PERPADUAN JOURNALING DAN TIME MANAGEMENT. 

Pernah mendengar istilah Interstitial Journaling ? Interstitial Journaling adalah sebuah metode journaling yang mengkombinasikan to do list, note taking dan time tracking (waktu pengerjaan). Apa bedanya dengan Bullet Journal ? Well mari kita pelajari bersama, 

INTERSTITIAL JOURNALING : PERPADUAN JOURNALING DAN TIME MANAGEMENT

Setelah lama tidak membahas tentang journaling, hari ini saya tergerak untuk membuat ulasan tentang Interstitial Journal, di mana saya mengenal tentang istilah ini setelah menonton video dari youtube chanell Bullet Journal. Bahasan tentang interstitial journaling ini cukup menarik karena pada dasarnya kita bisa mengkombinasikan dengan Bullet Journal. Namun sebelum itu, mari kita kenalan dulu dengan asal-usul journal ini. 

ASAL USUL INTERSTITIAL JOURNALING


Interstitial Journal


Interstitial Journal adalah teknik journaling yang dikembangkan oleh Tony Stubblebine, Teknik ini digunakan sebagai alat produktivitas yang membantunya untuk fokus mengerjakan task dengan tepat waktu. 

Berdasarkan etimologi, Interstitial Journaling berasal dari kata Interstice dan Journaling. Interstice yang berarti celah atau sela, sementara journaling adalah aktivitas menulis journal. Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya mengapa dinamakan Interstitial yang notabene berasal dari kata interstice (gap). 

Meski menggunakan kata journaling, jenis journal ini dikembangkan untuk alat produktivitas secata digital seperti Trello, Keep atau yang lainnya. Oleh sebab itu konsep yang digunakan tetap memanfaatkan pencatatan yang singkat. 

FUNGSI INTERSTITIAL JOURNAL


pengertian interstitial journal


Seringkali kita merasa kesusahan untuk konsisten membuat suatu prioritas dalam to do list. Bahkan terkadang apa yang telah kita catat pada saat pagi hari, ternyata akan berubah pada siang hari, sehingga yang terjadi banyak to do list yang tidak sesuai dengan apa yang kita kerjakan pada hari itu.

Teknik ini menawarkan solusi baru pada kita yang sering tidak konsisten dalam melaksanakan to do list yang telah ditetapkan pada saat pagi hari. Salah satu gagasan sederhana dari teknik ini adalah dengan menambahkan to do list pada saat kita telah melaksanakan to do list sebelumnya. Sehingga apa yang telah kita tetapkan di pagi hari bisa kita selesaikan tepat waktu. Hanya saja, kita membutuhkan blocking time atau jeda waktu tertentu untuk menyelesaikan to do list sebelumnya. 

Jadi secara tidak langsung, interstitial journaling itu adalah menulis journal yang dilengkapi dengan tracking waktu. Jadi kita akan bisa mengetahui secara detail kapan dan apa yang telah kita lakukan. Bahkan tidak hanya terbatas pada to do list saja, namun kita juga bisa melengkapi dengan mencatat mood yang kita rasakan. 

CONTOH INTERSTITIAL JOURNAL

Cara membuat interstitial Journal


Jika biasanya kita sering membuat to do list untuk satu hari penuh di waktu pagi hari, dengan teknik ini justru kita menambahkan to do list pada jam-jam tertentu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dengan begitu kita bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Contoh kasusnya seperti ini : 

"Kita memiliki waktu 10 jam untuk melakukan hal-hal yang kita anggap produktif. Biasanya kita memulai jam 7 untuk bekerja. Entah itu pekerjaan rumah atau suatu projek yang sedang kalian lakukan. Dari jam 7 hingga jam 9 kalian harus menentukan to do list atau task yang ingin diselesaikan. Catat dalam journal yang sudah disiapkan, termasuk di antaranya catatan penting dan mood yang ingin dituliskan. 

Setelah mencatat to do list dari jam 7 hingga 9, lantas coret pekerjaan yang sudah dilakukan. Dengan begitu kita sudah mengetahui apa saja pekerjaan yang sudah selesai. Biasanya akan ada waktu istirahat, di mana pada waktu istirahat ini bisa kita gunakan untuk mencatat to do list atau note taking untuk aksi selanjutnya. Katakan kita ingin menyelesaikan pekerjaan lain di rentang waktu jam 10 pagi hingga jam 12 siang, maka kita tulis daftar baru di bawahnya. Begitu seterusnya, hingga prioritas di hari itu selesai sesuai waktu yang diinginkan."

Berdasarkan illustrasi di atas, kita bisa mencatat dalam journal sebagai berikut, anggap saja ini to do list yang saya lakukan sebagai freelancer : 

  • 07.00 : Sarapan pagi 
  • 07.25 : Start pekerjaan rumah (menyapu lantai, cuci piring, membersihkan ruang-ruang lainnya)
  • 08.00 : Wah, ternyata ada barang yang pecah, mana barang kesayangan, sedih ! (Mood)
  • 08.30 : Bikin kopi biar hati tenang dan damai
  • 08.40 : Terima email dari klien 
  • 08.50 : Reply email ke klien. 
-------- ada jeda waktu di sini yang bisa kita manfaatkan untuk menulis to do list selanjutnya -------

  • 09.15 : Brainstorming tentang pigment untuk ewafebriart.
  • 09.45 : Draft blog untuk ewafebri.com tentang Interstitial Journal
  • 10.15 : Istirahat, ngemil cilok dulu gengs !
  • 10.30 : Lanjut draft lagi
  • 11.30 : Istirahat sambil nunggu waktu sholat. 
  • 11.45 : terima telp dari si A, gosip !
-------------------- lanjut lagi menulis to do list untuk waktu berikutnya, begitu seterusnya ----------


DAILY LOGGING BULLET JOURNAL 

Secara umum, teknik ini sebenarnya mirip dengan Rapid Logging yang ada pada Bullet Journal. Hanya saja, hal yang menjadi prioritas utama selain task adalah manajemen waktu. Jadi, agar teknik ini sukses dan berhasil sebagai alat produktivitas, maka kita harus memiliki manajemen waktu yang baik. 





Menurut Ryder Caroll, interstitial journal bisa dipadukan dengan konsep Bullet Journal. Hal ini bisa kita terapkan pada proses rapid logging. Yang membedakan adalah pada bagian depan rapid logging, kita tinggal membubuhkan rentan waktu yang ingin kita gunakan. Untuk lebih jelasnya, kita bisa melihat penjelasan dari Ryder tentang penggunaan teknik Interstitial pada Bullet Journal. 

Secara garis besar kedua teknik produktivitas ini hampir sama saja. Jika Interstitial Journaling merupakan perpaduan journaling dan time management, Bullet Journal lebih fokus pada prioritas yang ingin dikerjakan. Apabila kedua teknik ini dikerjakan secara bersamaan, maka keduanya akan saling melengkapi satu sama lain. Owh iya, perbedaan lainnya adalah bahwa Interstitial dikembangkan dan fokus untuk tool yang bersifat digital, sementara Bullet Journal fokus pada analog. 

Referensi : 

  • Anne-Laure Le Cunff,  Interstitial journaling: combining notes, to-do and time tracking. Di akses pada 21 November 2023 dari https://nesslabs.com/interstitial-journaling
  • Caroll, Ryder. 2023. What's Destroying Your Attention And How To Fix it. Youtube Chanell, Di akses pada 21 November 2023 dari https://www.youtube.com/watch?v=JzYJGRaCaOg
  • Credit image : Canva + Bing Chat Dall E 

Post a Comment

1 Comments

  1. I recently tried a saltcream scrub for exfoliating, and I was amazed by the results! The fine salt particles gently sloughed away dead skin cells, leaving my skin feeling incredibly smooth and rejuvenated. I'm definitely making salt cream a regular part of my skincare routine."





    ReplyDelete

Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏