MENYIASATI KONFLIK PRIBADI DENGAN SANTUY

by - October 10, 2019

menyiasati konflik pribadi


[Start Your Day With Ewafebri] Tips Mengatasi Konflik Pribadi. Di antara postingan saya yang sering terpublish di sini, tulisan ini murni merupakan curhatan pribadi. Hal yang bahkan saya sendiri sulit mencari solusinya. Konflik dengan diri sendiri merupakan hal yang paling sulit diatasi, terlebih jika dibandingkan dengan konflik yang lain. Sering mengalami konflik pribadi seperti saya ? Coba lakukan 5 hal ini untuk mengatasinya.

MENYIASATI KONFLIK PRIBADI DENGAN SANTUY


Jika biasanya postingan saya menawarkan tips atau solusi, kali ini saya ingin membuat tulisan untuk terapi saja. Lebih tepatnya sih untuk menuntaskan challenge minggu tema #1minggu1cerita. Hihi.. Jadi jujur, tulisan ini mungkin tak banyak faedahnya, hanya saja kalo kalian memiliki cerita yang serupa, tak ada salahnya kita berbagi resah bersama.

KONFLIK DENGAN DIRI SENDIRI 



cara mengatasi konflik dengan diri sendiri


Sudah lama saya sering mengalami konflik dengan diri sendiri. Tadinya saya pikir ini hal sepele, toh orang lain kan gak bisa terkena dampak juga. Tapi ternyata makin kesini, saya merasa ini sangat berbahaya. Apalagi, jika kita tidak tahu cara menyiasatinya.

Menghadapi konflik dengan diri sendiri itu seperti simalaka. Meski saya tahu, ini sangat berbahaya, tapi kadang saya sulit mengendalikannya. Ibaratnya tuh, dilawan salah, gak dilawan kok rasanya bikin lelah.

Belum lagi kalo konflik ini muncul justru saat dipicu oleh faktor luar. Kadang ini membuat saya jadi kesel sama diri sendiri. 

Entah kenapa, mengatasi konflik pribadi itu lebih sulit dibandingkan mengatasi konflik dengan orang lain. Jika kita berkonflik dengan orang lain, ada solusinya yang bisa kita ambil.

Misalnya : membicarakannya, menghindarinya atau bahkan menjauhinya sama sekali. 

" Sementara kalo kita berkonflik dengan diri sendiri, maka kemana pun kita pergi konflik itu akan selalu mengikuti. " - ewafebri


FAKTOR PENYEBAB KONFLIK PRIBADI


Saya tidak tahu pasti sebenarnya, konflik pribadi itu terjadi karena apa saja ? tapi ada beberapa faktor yang bisa saya sampaikan sesuai dengan pengalaman yang saya rasakan.

Konflik pribadi bisa terjadi karena faktor berikut ini : 



  • Adanya pilihan lebih dari satu. Biasa membuat pilihan bisa berubah menjadi sebuah konflik. Apalagi jika kedua pilihan tersebut setara nilainya, kita jadi bingung menentukan yang mana, yekan ?
  • Tekanan. Adanya tekanan kadang membuat kita jadi berkonflik dengan diri sendiri, meskipun awalnya tekanan tersebut dari luar. 
  • Intimidasi. Jelas ini akan menjadi konflik, karena kita diberi pilihan yang bukan keinginan kita sendiri. 
  • Norma dan Budaya. Seringkali faktor luar seperti norma, budaya, adat bahkan lingkungan sekitar menjadi pemicu konflik dalam diri sendiri. 
  • Aturan. Sama halnya dengan norma dan budaya, sebuah aturan yang tidak sesuai dengan keingin kita juga bisa menjadi faktor timbulnya konflik dengan diri sendiri. 
  • Trauma masa lalu. Trauma masa lalu juga bisa menjadi pemicu terbesar dalam konflik yang terjadi dalam diri kita. Kadang trauma ini yang sulit banget dapetin obatnya. 
  • Gunjingan. Pernah secara tak sengaja mendengar orang lain menggunjingkan kita, padahal mereka salah. Atau pernah mendengar orang lain menggunjingan orang lain, padahal kita tahu kebenarannya ? Pingin disahutin tapi takut terjadi perang ? Nah, walhasil kitalah yang berkonflik sama diri sendiri. Sesungguhnya gak ngerti banyak hal itu lebih baik.

Mungkin masih banyak lagi faktor penyebabnya. Dan saya yakin masing-masing orang bisa memiliki sumber konflik yang berbeda-beda.


MENYIASATI KONFLIK PRIBADI 


tips menyiasati konflik pribadi


Belajar Personal development adalah salah satu cara saya untuk mengatasi konflik ini. Maklum kan, konflik ini tuh datang dan perginya tak bisa disangka, bahkan kadang pemicunya hal yang sepele.

JOURNALING


Journaling mungkin alat yang tepat untuk mengetahui tentang konflik pribadi, sayangnya journaling juga bukan media yang bisa mengatasi hal ini. Tapi setidaknya dengan journaling saya bisa mengetahui bahwa saya tidak baik-baik saja pada saat-saat tertentu.

Dengan journaling juga, membuat saya bisa mengenal diri saya sendiri lebih dalam lagi. Saya semakin tahu dan sadar bagaimana saya merespon setiap konflik yang berdatangan. Saya juga bisa belajar bagaimana cara mengendalikan konflik tersebut melalui symptom yang saya rasakan.

Tapi bagaimanapun, konflik dengan diri sendiri ini memang harus dicarikan solusinya. Ya setidaknya ada yang bisa meringankan meski tak mampu menghilangkan. Karena lawan kita itu diri sendiri. Jadi berhati-hati itu harus, supaya kita tidak makin terjerumus ke lembah penderitaan yang tak kunjung padam.

Ingin berlangganan tips journaling dan Blogging  ? Mudah ! Daftar di sini aja !



KOMPROMI DENGAN DIRI SENDIRI


Dalam konflik dengan diri sendiri, saya tidak menggunakan teknik menang kalah. Tapi cukup menggunakan metode kompromi saja. Yaitu, memilih keputusan yang membuat saya tenang dan bahagia.

Dulu saya seringkali memilih jalan yang berakhir dengan menghancurkan diri sendiri, supaya yang lain bisa merasa bahagia dan puas. Sementara saya sendiri justru menderita karenanya.

Belakangan ini saya sadar bahwa saya harus belajar menghargai diri saya sendiri. Mengutamakan ketenangan dan kebahagiaan diri sendiri dulu, dibandingkan mengikuti kemauan orang lain. Bagaimanapun, kebahagian dan ketenangan jiwa tak bisa saya dapatkan dari orang lain, bahkan orang terdekat sekalipun.

Yup.. apa yang menurut orang lain baik, belum tentu membuat saya bahagia. Begitupun sebaliknya. Dan karena itu pula saya mulai mengurangi ngurusin kehidupan orang lain.

SET BOUNDARIES 


Saya sadar setiap orang punya alasannya sendiri saat memilih jalan hidupnya. Dan itu bukan urusan saya. Pun saya juga tidak ingin membebankan urusan saya ke orang lain. Menetapkan batasan untuk diri kita sendiri itu memang perlu dilakukan.

Misalnya saja kita bisa menentukan area mana orang lain yang boleh ikut campur sama urusan kita, dan area mana yang perlu kita tandai bahwa ini adalah ranah kita, dan orang lain tak boleh ikut campur.

Memiliki batasan juga bisa menjadi patokan kita untuk bertindak tegas. Misalnya ada orang lain yang mencoba mengendalikan hidup kita, kita berhak menghentikannya.

" Bagaimanapun saat kita terluka secara emosional, orang yang akan menyembuhkan adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain !

Meskipun begitu, bukan berarti saya tidak ingin berinteraksi dengan yang lain. Sebagai makhluk sosial saya tidak bisa dipisahkan oleh lingkungan sekitar. Tapi yang pasti, saat ini saya sudah memiliki prinsip hidup yang bisa diterapkan pelan-pelan.

DIAM 


Berdiam diri juga bisa menjadi salah satu cara menyiasati konflik dengan diri sendiri. Mengingat musuh yang kita hadapi adalah jiwa kita, otomatis energi yang akan kita keluarkan dalam menghadapi konflik ini juga besar.

Jadi, kali kita sudah berada pada area yang membuat sangat lelah, maka berhentilah sejenak. Biarkan pikiran dan jiwa kita berdiam diri dulu jangan saling menyerang.

Terlebih lagi apabila konflik ini pemicunya justru dari luar. Diamkan saja, hingga kamu siap menghadapinya kembali.

PILIH YANG MEMBUAT BAHAGIA


Jika kita diwajibkan membuat pilihan terhadap konflik yang ada, pilihlah keputusan yang membuat kamu bahagia. Membuat orang lain bahagia memang baik, tapi jika keputusan yang kamu ambil membuatmu menderita, untuk apa ?

Kemauan orang lain itu gak ada habisnya. Lelah kalo setiap keputusan , lagi-lagi kita berusaha menyenangkan orang lain tapi membuat kita sangat menderita.

Hal ini juga, yang baru-baru ini sering saya terapkan. Saya sering merasa lelah tentang hidup karena ternyata yang selama ini saya buat bahagia, justru bukan diri saya sendiri.

Setiap keputusan yang saya ambil, karena saya memikirkan kebahagian orang lain. Padahal asli, setelahnya saya sesak nafas. Dan apa yang akan dilakukan oleh orang lain kepada kita ? Dia akan minta hal yang serupa, bahwa keinginanan harus dinomorsatukan.

" Helloooo orang lain ! yang membuat kamu bahagia itu, tidak selalu membuat saya bahagia lho. Dan bila menyangkut hidup saya, tolonglah tahu diri ! Jangan apa-apa maunya dituruti saja. Saya bukan boneka, dan saya gak mau lagi menjadi orang yang sama. " - ewafebri.

Kalo orang lain gak terima sama keputusan saya, ya bodo amat. Kamu gak bahagia, jangan nyalahin saya ! makanya cari bahagiamu sendiri, jangan kepo mulu sama hidup orang lain. Lawung kamu gak bisa bikin saya bahagia kok, apa gak malu mau nyampurin hidup saya lagi ?.

" Hiduplah dengan caramu sendiri, dan biarkan saya menikmati cara hidup saya sendiri. Ketahui batasanmu, maka saya gak akan lancang dan kurang ajar. " - ewafebri


Ini sebenarnya, konfliknya ke arah mana ini ? hahaha...  Kok malah jadi melebar ngurusin orang juga 🙄🙄🙄. Evva... Evva.. ! 🤭.

KESIMPULAN


Pada intinya konflik pribadipun banyak pemicunya. Ada faktor dari dalam diri sendiri ataupun dari luar. Dan setiap respon yang ditimbulkan oleh konflik tersebut juga beragam.

Apapun konfliknya, start your day with ewafebri ! hihihi.. Di Blog ini tuh kita bisa seneng-seneng bareng, bisa saling tukar informasi bareng, bisa saling belajar bareng, bahkan bisa nangis bareng loh. Lengkap kan ?

Biar makin lengkap lagi, jangan lupa ikutan gabung bereng teman-teman lainnya untuk mendapatkan informasi melalui newsletter tiap bulan.

Gak cuma tentang update artikel, tapi juga ada freebie dan tips lainnya. Caranya dengan mengklik tombol gabung berikut ini !.


You May Also Like

0 comments