BOOK REVIEW | STEPHEN CHBOSKY- THE PERK OF BEING WALLFLOWER

by - September 30, 2018

We accept the love we think we deserve
The Perk of Being Wallflower Quote


THE PERKS OF BEING A WALLFLOWER, buat saya cukup menarik sekali judul dan jalan ceritanya. Buku ini tentang kisah seorang remaja bernama Charlie yang lugu, naif, dan alim yang ternyata menyimpan sebuah rahasia besar pada masa kecilnya. Rahasia yang ternyata mempengaruhi perjalanan hidupnya.


Book Cover The Perk Of Being Wallflower

⭐⭐⭐⭐

JUDUL : THE PERK OF BEING WALLFLOWER
PENULIS : STEPHEN CHBOSKY
GENRE : YOUNG ADULT
TAHUN PENERBITAN : 1999
ISBN : 9780671027346
JUMLAH HALAMAN : 213 


BLURB


The critically acclaimed debut novel from Stephen Chbosky, Perks follows observant “wallflower” Charlie as he charts a course through the strange world between adolescence and adulthood. First dates, family drama, and new friends. Sex, drugs, and The Rocky Horror Picture Show. Devastating loss, young love, and life on the fringes. Caught between trying to live his life and trying to run from it, Charlie must learn to navigate those wild and poignant roller-coaster days known as growing up. -- Goodreads


THE REASON I READ


Pertama tahu tentang judul buku ini karena pernah dimention oleh Dee Lestari di twitnya (yang saya lupa tahun kapan). Dari situ saya jadi penasaran tentang isi bukunya. 

Disaat yang bersamaan seorang temen juga punya filmnya, duh daripada keduluan nonton filmnya dan jadi buyar imajinasinya, akhirnya saya putuskan untuk membacanya terlebih dahulu, sebelum nonton filmnya. Hihi.. Menyelamatkan Imajinasi penting Gaes, biar bisa terus bermimpi. Hahaha..


CHARACTER 


Charlie adalah seorang anak yang terlahir dengan a gift atau sesuatu yang special, bukan special selayaknya  anak  Indigo  seperti kiyoshi atau semacamnya, dia sangat special karena memang dia berbeda dengan yang lainnya. Dia lugu, baik, naif dan alim yang bahkan ketika orang sedang mengerjainya, dia tidak sadar. Dia belajar di  Sekolah Menengah atas (kelas 2) dia Amerika, dan disana pulalah Charlie menemukan teman dan tambatan hatinya.

Sam Dan Patrick adalah 2 orang sahabat yang memahami dan mau menerima Charlie apa adanya. Meskipun kedua orang tersebut adalah kakak kelasnya, tapi mereka bisa membuat Charlie merasa nyaman dan merasa memiliki teman.

THE ENDING 

Kematian salah satu sahabat terbaiknya -lah yang menjadi puncak perjuangan hidup Charlie, dan membuat kisahnya makin rumit dan berwarna. 

Sama halnya dengan anak-anak usia remaja  lainnya, Charliepun jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Disinilah ke-special-an Charlie diuji. Apakah dia mampu melewatinya dengan sempurna ? Atau justru dia makin terjerembab ke dalam masa lalunya.

Diakhir cerita inilah juga kita akan paham kenapa Charlie begitu " special ". Ada begitu banyak hal yang telah menimpa dirinya, dan membuatnya harus berjuang, meski hanya demi menjadi remaja pada umumnya. 



MY IMPRESSION 


Sejujurnya saya sangat menikmati ceritanya yang tidak biasa. Materi cerita yang disampaikan sangat sensitif. Mengangkat isu yang saat ini marak terjadi, Mental Health.

Yang membuat saya bisa dengan nyaman membaca ceritanya, karena sang penulis menggambarkannya secara jenius, halus, samar tapi mengena.

Yang membuat saya tidak nyaman adalah format ceritanya yang oleh sang penulis, dia buat semacam surat-menyurat. Dari awal saya udah mulai lelah membaca Gaes, mungkin karena saya jarang membaca surat, kecuali surat keterangan tidak masuk kelas (lah jaman kapaaaan... ?). Hahaha.. makanya pas baca buku ini rasanya perjuangan tiada henti.

Untung ceritanya nendang dan bikin penasaran, itu juga alasannya kenapa akhirnya saya tetap menyelesaikan bukunya, meskipun bacanya ngos-ngosan (aelaaah.. kayak habis marathon hahha..).

Buat yang suka dengan cerita berbau psikologi, mental health dll. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Serius keren banget Gaes... ! Selain ceritanya yang gak pasaran, juga karena kita bisa sekalian olah raga otak dan yang pasti menguji kesabaran. Hihi..

By the way.. Filmnyapun oke pake banget Gaes, pemerannya pun tak main-main. Emma Watson, Logan Lerman, Ezra Miller, Nina Dobrev, Kate Walsh, Paul Rudd dll. Dari Film inilah yang akhirnya membuat saya jatuh cinta sama aktingnya Ezra Miller dan Logan Lerman. Terlalu kereeeen.... ! Huhuhu..

Entah Film atau Bukunya, wajib ditengoklah pokoknya.. hahaha.. Ceritanya menyentuh, jujur, dan yang pasti memorable pake banget (anak Jakselnya keluar). Hahahha..


WHAT I LEARN 


Warning ! Kalo habis baca bukunya jangan emosi jiwa ya.. ?!? Bahaya ... !

Pelajaran yang saya dapat dari membaca kisah ini, bahwa trauma itu bisa melekat hingga kapanpun, sekalipun kita sudah berusaha untuk menghilangkannya. Efeknya pun berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang berpikir "sepele" (bodo amat ah..), ada yang bahkan tak berani ditinggal sendiri karena takut mengingatnya. Ada yang menutupinya karena merasa malu, ada yang berani mengutarakannya karena ingin mendapatkan pertolongan. Semoga kita bukan menjadi orang-orang penyebab trauma kepada orang lain.

FAV. QUOTE 


The Perk of Being Wallflower Quote

Menjadi berbeda itu tidak salah, tapi akan tetap dianggap salah oleh sebagian orang. Menjadi diri sendiri mungkin artinya akan menjadi berbeda. Berbeda dari tuntutan sosial yang makin lama makin Hwaaaah...  Apalagi di Jakarta ini.. huhuhu.. Buat saya mah gak masalah sih.. hahha.. karena emang sanggupnya ya begitu aja. Apa adanya.  (Malah curhat gak jelas.. !)


[Credit pics © canva, 2018 ]




HAPPY READING ! 


You May Also Like

0 comments

Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏