Setelah sekian lama tidak memperbarui seri Metacognitive Journaling, hari ini saya ingin mengulas satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: "Apakah saya lebih sering bersikap keras atau lembut pada diri sendiri?"
Bagaimana Cara Berhenti Terlalu Keras pada Diri Sendiri?
Sejujurnya, saya sempat bingung ketika membaca prompt ini. Pertanyaannya terdengar sederhana, tetapi semakin dipikirkan, jawabannya justru membuat saya berpikir lebih dalam. Rasanya tidak cukup jika hanya menjawab "keras" atau "lembut", karena keduanya pernah menjadi bagian dari cara saya memperlakukan diri sendiri dalam situasi yang berbeda.Ketika Bersikap Keras Berasal dari Keinginan Menyenangkan Semua Orang
Dulu saya sering merasa bersalah ketika tidak bisa membantu orang lain. Rasanya seperti ada kewajiban untuk selalu mengatakan "ya", meskipun sebenarnya saya sedang lelah atau memiliki prioritas lain.Tanpa sadar, saya mengukur nilai diri dari seberapa banyak saya bisa memenuhi kebutuhan orang lain. Saya pikir itulah bentuk kepedulian, padahal sebagian di antaranya adalah ketakutan mengecewakan orang lain.
Dalam psikologi, pola ini sering dikaitkan dengan people pleasing, yaitu kecenderungan untuk memperoleh penerimaan dengan mengorbankan kebutuhan diri sendiri.
Dalam psikologi, pola ini sering dikaitkan dengan people pleasing, yaitu kecenderungan untuk memperoleh penerimaan dengan mengorbankan kebutuhan diri sendiri.
Lama-kelamaan, seseorang bukan hanya sulit mengatakan "tidak", tetapi juga menjadi sangat keras kepada dirinya sendiri. Setiap kali gagal memenuhi ekspektasi orang lain, muncul kritik batin yang mengatakan bahwa dirinya belum cukup baik.
Saya kemudian menyadari bahwa kepedulian tidak harus diwujudkan dengan ikut memikul semua persoalan. Dalam perspektif Islam, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya masing-masing.
Saya kemudian menyadari bahwa kepedulian tidak harus diwujudkan dengan ikut memikul semua persoalan. Dalam perspektif Islam, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanahnya masing-masing.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًاJanganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Saya tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas semua masalah yang terjadi di sekitar saya, melainkan atas bagaimana saya menjalankan amanah yang Allah titipkan kepada saya. Kesadaran ini membuat saya lebih tenang dalam menetapkan batasan tanpa kehilangan rasa peduli.
Lembut pada Diri Sendiri Bukan Berarti Menjadi Pemalas
Ada masa ketika saya mengira bahwa bersikap lembut pada diri sendiri berarti memberi toleransi sebanyak mungkin. Namun, saya akhirnya memahami bahwa kelembutan bukanlah membiarkan diri larut dalam kenyamanan. Justru kelembutan adalah kemampuan mendengarkan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh diri sendiri pada saat itu.Dalam filsafat, terutama gagasan tentang kebajikan, manusia diajak mencari keseimbangan, bukan hidup dalam dua kutub yang ekstrem. Terlalu keras membuat kita mudah lelah, sedangkan terlalu memanjakan diri membuat kita kehilangan arah. Kebijaksanaan lahir ketika kita mampu mengetahui kapan harus beristirahat dan kapan harus melangkah lebih jauh.
Saya mulai mengurangi keterlibatan pada hal-hal yang sebenarnya bukan urusan saya. Bukan karena saya menjadi tidak peduli, melainkan karena saya ingin menjaga energi untuk tanggung jawab yang memang dipercayakan kepada saya. Anehnya, ketika saya berhenti merasa harus menyelesaikan semuanya, saya justru memiliki ruang yang lebih luas untuk hadir secara utuh bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan.
Ada Saatnya Saya Tetap Harus Keras pada Diri Sendiri
Meskipun demikian, saya tidak ingin menggunakan alasan "self-love" untuk membenarkan kemalasan. Ada kalanya saya memang perlu bersikap tegas kepada diri sendiri, terutama ketika sedang membangun kebiasaan baik. Saya percaya bahwa impian tidak hanya dibangun oleh motivasi, tetapi juga oleh rutinitas yang dilakukan berulang-ulang.Salah satu contohnya adalah kebiasaan menulis. Saya berusaha tetap menulis, apa pun medianya. Terkadang hanya beberapa paragraf di jurnal, terkadang menjadi sebuah artikel, atau sekadar mencatat ide yang muncul. Bagi saya, aktivitas ini bukan hanya menghasilkan tulisan, tetapi juga menjaga otak tetap aktif berpikir, menghubungkan berbagai gagasan, dan melatih kreativitas agar tidak tumpul.
Psikologi menunjukkan bahwa kebiasaan terbentuk melalui pengulangan yang konsisten. Semakin sering suatu aktivitas dilakukan, semakin kuat jalur yang mendukung aktivitas tersebut di dalam otak. Disiplin akhirnya bukan lagi tentang memaksa diri tanpa henti, melainkan membantu otak mengenali bahwa suatu perilaku layak dipertahankan karena memberi manfaat dalam jangka panjang.
Memilih Kapan Harus Keras dan Kapan Harus Lembut
Sekarang saya tidak lagi bertanya apakah saya harus menjadi pribadi yang keras atau lembut. Saya lebih tertarik bertanya, kapan saya perlu bersikap tegas, dan kapan saya perlu memberi ruang untuk bernapas? Pertanyaan ini membuat saya berhenti melihat kehidupan dalam warna hitam dan putih. Tidak semua situasi membutuhkan jawaban yang sama.Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَMaka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
Dalam Islam terdapat keseimbangan antara harapan dan rasa takut, antara usaha dan tawakal. Saya melihat prinsip yang sama juga berlaku dalam memperlakukan diri sendiri. Saya perlu disiplin agar tidak mudah menyerah, tetapi saya juga perlu kasih sayang agar tidak hancur oleh tuntutan yang saya ciptakan sendiri. Keduanya bukan lawan, melainkan pasangan yang saling melengkapi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ ۩Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur (dalam keadaan) sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya dan mereka pun tidak menyombongkan diri.As-Sajdah [32]:15
Hari ini, jika saya kembali menuliskan pertanyaan di awal esai ini, mungkin jawaban saya adalah: saya sedang belajar menjadi keduanya. Saya ingin cukup keras untuk menjaga komitmen terhadap mimpi-mimpi yang Allah titipkan kepada saya, tetapi juga cukup lembut untuk menerima bahwa saya adalah manusia yang memiliki batas.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًاۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَLambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Barangkali kedewasaan bukan tentang selalu kuat, melainkan tentang mengetahui kapan harus melangkah dan kapan harus berhenti sejenak agar bisa melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih utuh.


0 Komentar