بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada sebuah pertanyaan yang belakangan ini sering hadir dalam benak saya: kapan sebenarnya saya merasa paling dekat dengan Allah SWT?
Jika jujur, sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab bahwa kita paling sering mengingat Allah ketika sedang menghadapi kesulitan. Saat hati sedang gelisah, saat masalah datang bertubi-tubi, atau ketika semua jalan terasa buntu. Pada saat-saat seperti itulah doa menjadi lebih panjang dan air mata terasa lebih mudah mengalir.
METACOGNITIVE JOURNALING: KAPAN SAYA MENGINGAT ALLAH?
Namun suatu hari saya menyadari sesuatu yang membuat hati ini merasa malu. Jika selama ini saya begitu dekat kepada Allah ketika sedang membutuhkan pertolongan-Nya, lalu ke mana hati dan pikiran saya ketika semua masalah itu telah terselesaikan? Apakah saya masih mengingat-Nya dengan kadar yang sama, atau justru kembali sibuk dengan urusan dunia?
Pertanyaan sederhana itu akhirnya membawa saya pada sebuah perjalanan refleksi yang mengubah cara pandang saya tentang hubungan seorang hamba dengan Rabb-Nya.
Pilihan Terakhir Menjadi Tujuan Utama
Dahulu saya sering menjadikan Allah sebagai tempat kembali setelah semua usaha terasa gagal. Ketika berbagai solusi tidak berhasil, ketika manusia tidak mampu memberikan jawaban, barulah saya benar-benar berserah diri kepada-Nya. Tanpa sadar, Allah sering menjadi pilihan terakhir ketika semua jalan yang lain telah tertutup.
Padahal, jika dipikirkan kembali, bukankah Allah adalah Pemilik seluruh jalan keluar itu sendiri? Mengapa kita justru lebih dahulu menggantungkan harapan kepada berbagai sebab, sementara Sang Pencipta sebab tersebut ditempatkan di urutan paling belakang?
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَBerkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitulmaqdis). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.”Al-Mā'idah [5]:23
Konteks QS. Al-Ma'idah ayat 23 berdasarkan Tafsir Tahlili dan Kemenag sebenarnya sangat menarik untuk direnungkan. Ketika sebagian besar Bani Israil diliputi rasa takut setelah mendengar kekuatan penduduk negeri yang akan mereka hadapi, justru muncul dua orang yang tetap teguh dalam keimanan, yaitu Yosua bin Nun dan Kalaeb bin Yefune.
Keduanya tidak menilai keadaan hanya berdasarkan kekuatan musuh yang tampak di hadapan mata, tetapi berdasarkan janji dan pertolongan Allah. Karena itulah Nabi Musa mengajak kaumnya untuk tetap melangkah, memasuki gerbang negeri tersebut, dan bertawakal kepada Allah.
Bagi mereka, kemenangan bukanlah hasil dari besarnya kemampuan manusia semata, melainkan buah dari keberanian untuk taat kepada perintah Allah dan keyakinan bahwa pertolongan-Nya pasti datang kepada orang-orang yang beriman.
Kisah ini memberikan pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Sering kali yang menghalangi seseorang untuk melangkah bukanlah besarnya tantangan yang dihadapi, melainkan ketakutan yang tumbuh di dalam pikirannya sendiri.
Bani Israil lebih fokus pada kekuatan lawan yang terlihat, sementara Yosua dan Kalaeb memilih fokus pada kekuatan Allah yang tidak terlihat. Dari sinilah saya mulai memahami bahwa ketenangan hati bukan muncul karena semua risiko telah hilang, tetapi karena kita memiliki keyakinan kepada siapa kita bersandar ketika menghadapi risiko tersebut.
Inilah yang kemudian membawa saya pada refleksi tentang bagaimana menempatkan Allah sebagai tumpuan pertama dalam hidup, bukan sekadar pilihan terakhir ketika semua jalan terasa buntu. Tawakal adalah fondasi yang menyertai setiap langkah sejak awal. Kita tetap berikhtiar, tetapi hati tidak bergantung pada ikhtiar itu. Hati bergantung kepada Allah yang mengendalikan hasil dari setiap usaha.
Mengapa Hati Menjadi Lebih Tenang?
Mengapa mengingat Allah SWT, hati menjadi tenang?
Setelah mulai belajar menempatkan Allah sebagai tumpuan pertama, saya merasakan perubahan yang cukup besar dalam cara menghadapi kehidupan. Masalah tetap datang. Tantangan tetap ada. Namun beban yang saya rasakan tidak lagi seberat dahulu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.Ar-Ra‘d [13]:28
Ayat ini bukan sekadar kalimat penghibur. Ia menjelaskan sebuah realitas psikologis yang sangat dalam. Ketika seseorang memiliki sandaran yang jelas, tingkat kecemasan cenderung berkurang. Pikiran tidak lagi dipenuhi ketakutan terhadap berbagai kemungkinan buruk karena ada keyakinan bahwa Allah selalu membersamai dan mengatur segala sesuatu dengan hikmah-Nya.
Dalam psikologi modern, kondisi ini memiliki kemiripan dengan konsep secure attachment, yaitu rasa aman yang muncul ketika seseorang memiliki hubungan yang kuat dengan figur yang dipercaya. Jika dalam hubungan manusia rasa aman itu muncul karena keberadaan orang lain, maka dalam konteks spiritual, rasa aman itu lahir dari keyakinan kepada Allah yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Ikhtiar Tetap Penting, Tetapi Tidak Lagi Membebani
Sering kali orang mengira bahwa berserah diri kepada Allah berarti berhenti berusaha. Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Kita tetap bekerja, belajar, berkarya, dan berjuang semaksimal mungkin.
Perbedaannya terletak pada tempat kita menggantungkan harapan. Sebelum memahami hal ini, saya sering merasa bahwa keberhasilan sepenuhnya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Akibatnya, setiap kegagalan terasa seperti akhir dari segalanya. Hati mudah kecewa, bahkan terkadang mempertanyakan nilai diri sendiri.
Kini saya mulai melihat kegagalan dari sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi kegagalan bukanlah penolakan, melainkan proses pembelajaran yang belum selesai. Dalam filsafat Islam, kehidupan dipandang sebagai perjalanan menuju kedewasaan ruhani. Karena itu, tidak semua hal yang kita inginkan harus segera diberikan. Ada kalanya Allah menunda sesuatu agar kita bertumbuh terlebih dahulu sebelum menerimanya.
Mengingat Allah Saat Suka dan Duka
Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan adalah bahwa mengingat Allah tidak seharusnya terbatas pada masa-masa sulit. Jika kita hanya mengingat-Nya ketika membutuhkan pertolongan, hubungan kita dengan Allah akan terasa transaksional.
Ketika sedang berbahagia, saya mulai belajar mengisi doa-doa dengan rasa syukur. Bukan hanya meminta tambahan nikmat, tetapi juga berterima kasih atas nikmat yang sudah ada. Termasuk nikmat waktu, kesehatan, kesempatan belajar, dan kesempatan untuk berkarya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”Ibrāhīm [14]:7
Sebaliknya, ketika sedang berduka, saya belajar menjadikan doa sebagai ruang untuk mengadukan segala keresahan. Dengan cara ini, baik saat suka maupun duka, Allah tetap menempati posisi yang sama di hati. Kondisi hidup boleh berubah, tetapi arah hati tetap menuju kepada-Nya.
Ketika Nama Allah Memenuhi Pikiran dan Lisan
Ada satu hal yang baru saya pahami belakangan ini. Dulu saya sering merasa heran melihat orang-orang yang hampir selalu menyebut nama Allah dalam percakapan mereka. Bahkan terkadang saya menganggapnya berlebihan.
Namun seiring waktu, pandangan itu berubah. Saya mulai menyadari bahwa apa yang sering keluar dari lisan seseorang biasanya mencerminkan apa yang paling banyak mengisi pikirannya. '
Orang yang mencintai suatu hobi akan sering membicarakan hobinya. Orang yang sedang jatuh cinta akan sering menyebut orang yang dicintainya.
Begitu pula dengan Allah. Ketika hati seseorang dipenuhi oleh kecintaan kepada-Nya, maka mengingat Allah menjadi sesuatu yang alami. Bukan dibuat-buat, bukan pula sekadar kebiasaan sosial. Nama-Nya hadir dalam percakapan karena memang hadir terlebih dahulu di dalam hati.
Menghadirkan Allah dalam Setiap Aktivitas
Mungkin selama ini saya mengira bahwa mengingat Allah hanya terjadi ketika sedang shalat, membaca Al-Qur'an, atau berzikir. Padahal semakin saya belajar, semakin saya memahami bahwa mengingat Allah dapat hadir dalam berbagai aktivitas kehidupan.
Ketika belajar dengan niat mencari ilmu yang bermanfaat, kita sedang mengingat-Nya. Ketika bekerja dengan jujur, kita sedang mengingat-Nya. Ketika menulis, berkarya, membantu orang lain, dan menyebarkan manfaat karena mengharap ridha-Nya, semua itu dapat menjadi bentuk dzikir yang hidup.
Dalam perspektif filsafat Islam, seluruh kehidupan seorang mukmin sejatinya bergerak menuju satu tujuan yang sama, yaitu mengenal dan mendekat kepada Allah. Karena itu, aktivitas duniawi dan aktivitas spiritual bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya dapat menyatu ketika niat dan orientasinya benar.
Belajar Menjadikan Allah sebagai Awal dari Segalanya
Perjalanan ini masih panjang, dan saya masih terus belajar. Ada kalanya hati kembali lalai, ada kalanya pikiran kembali dipenuhi urusan dunia. Namun setidaknya saya mulai memahami satu hal penting: ketenangan bukan berasal dari hilangnya masalah, melainkan dari hadirnya Allah di dalam hati.
Mengingat Allah saat berada dalam kesulitan memang penting. Akan tetapi, mengingat-Nya saat sedang lapang dan bahagia mungkin jauh lebih menantang. Sebab pada saat itulah kita diuji, apakah kita mencintai Allah karena pertolongan-Nya, atau karena memang Dia adalah tujuan hidup kita.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang tidak hanya mencari Allah ketika kehilangan arah, tetapi juga menjadikan-Nya sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan. Karena ketika Allah menjadi tumpuan pertama, bukan pilihan terakhir, hati akan menemukan tempat pulang yang tidak pernah mengecewakan.








0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏