LET'S STOP JUDGING, START LIVING !

by - February 18, 2019

lets stop judging, start living !


Let's stop judging, start living ! Mantra terbaru yang ingin saya terapkan dalam hidup. Belajar dari pengalaman masa lalu yang menguras pikiran (meski harusnya tak dipikirkan), saya perlahan mulai menerima setiap keadaan dengan apa adanya. Jangankan ingin mengubah karakter atau perilaku orang lain, mengubah diri sendiri saja sangat sulit.

LET'S STOP JUDGING, START LIVING ! 


Semakin bertambah umur, saya semakin menyadari banyak hal. Hal tentang apa yang membuat hidup saya berkualitas. Ataupun hal yang membuat hidup saya tak berfaedah. Salah satu hal yang membuat hidup saya tak berfaedah adalah Kebiasaan Judging.

STOP JUDGING !


ewafebri illustrations


Belakangan ini menyimak linimasa twitter, membuat saya teringat kebiasaan beberapa tahun lalu. Tahun dimana setiap hal, bisa menjadi materi opini saya. Parahnya, opini tersebut saya ungkapkan dalam hal negatif, bukan positif. 

Judging atau bisa bermakna menilai apapun dengan batasan atau cara yang menurut kita benar, adalah kebiasaan yang bisa berdampak buruk. Tindakan ini memang terlihat kaku, bahkan seringkali menyakitkan. Untuk beberapa kasus judging memang bermanfaat, tapi jika berlebihan, jelas merugikan diri kita sendiri. 

Judging yang berlebihan seringkali mengkonsumsi energi kita untuk menilai segala hal. Bukan cuma orang lain korbanya, bahkan diri kita sendiri. Perilaku ini lama kelamaan justru akan menggerogoti pikiran kita sendiri. Bahkan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari.

DAMPAK JUDGING


Ada beberapa hal yang mempengaruhi hidup saya gara-gara kebiasaan ini. Dampaknya sungguh tidak baik. Berikut ini adalah dampak yang saya rasakan akibat hobbi nge-judge tanpa dasar apapun alias " semau gue ".


bowgel ewafebri


Overthinking 


Gara-gara saya sering nge-judge, setiap hal menjadi bahan untuk dikomentari. Dari mulai yang remeh temeh hingga yang serius. Parahnya, kadang opini ini seringkali tanpa dasar yang jelas. Ya intinya mah dulu, "asal ngomong bae ". Lama kelamaan, saya merasa bahwa otak saya gak bisa diam. Semacam 24 jam mikir terus gitu. Hihihi.. seandainya bisa saya pasang saklar. Jadi bisa di on/off ini nie otak.. hahaha.. 

Insomania 


Hobbi nge-judge membuat saya mengalami insomania. Saya mengalami gangguan tidur, karena pikiran saya seolah tak mau berhenti beraktivitas. Entah ingin mencari materi untuk di-judge, atau justru berasumsi tiada henti. Bahkan tengah malam pun saya sering kepo sama berita baru hanya sekedar untuk dikomentari. 

Kurang Fit 


Hobbi nge-judge yang saya lakukan berakibat pada gangguan lainnya. Hal ini mengakibatkan tubuh sayapun bermasalah. Kurang fit, cepat lelah, capek disaat jam produktif kerja. Mungkin ini karena energi negatif yang saya dapatkan lebih banyak dibandingkan energi positif. 

Tidak Produktif 


Ya gimana mau produktif, kalo otak bawaannya mikir macem-macem. Terlalu banyak informasi yang saya cari membuat kapasitas otak saya terasa penuh. Jadinya ruwet dan gak bisa fokus. Bukan cuma itu, rasanya waktu habis karena sibuk nge-judge sana sini, dan pekerjaan malah terbengkalai. Hadeeeh. 

Pesimis 


Kebiasaan judging membuat saya jadi orang yang pesimis. Belum nyoba aja,  kadang udah mikir " gak mungkin berhasil ini !". Doooh ! belum apa-apa Udah ngejudge duluan donk. Hadeeeeh... ! Gimana mau maju sayanyaaaa... O.M.G !.

Nah ini ! ini bagian yang paling berbahaya dari kebiasaan saya nge-judge. Saya berubah menjadi orang yang pesimis dan sering nge-judge diri sendiri. Ini juga berdampak pada kepercayaan diri. 

Negative People


Judging mengantarkan saya menjadi Negative People. Toxic banget Gaes. Rasanya tuh ya, atmosfer disekililing saya itu jelek semua. Gak ada positifnya. Setiap temen bercerita tentang keberhasilan seseorang, saya sudah mulai melontarkan " halaaaaah, paling-paling.. bla..bla..bla ". Padahal saya belum tahu kebenarannya.

Gak Berkembang 


Perilaku judging membuat saya menjadi orang yang tidak mau belajar. Karena udah merasa paling benar. Jangankan mau mendengarkan opini orang lain, memberikan kesempatan pada mereka aja, gak ! Oleh karena itu, pikiran dan perkembangan saya jadi terhenti. Lebih banyak ngurusin orang lain gitu gaes. ( kok bisaaa sih Vva !).


stop judging


Stress 


Overthinking akhirnya membawa saya pada kondisi stress, bahkan sempat berhalusinasi. Sempet mendengar suara-suara aneh. terutama saat sedang marah. Mungkin jika ada yang bilang, " ada yang bisikin ", situasinya seperti yang pernah saya alami.

Insecure & Mudah Tersinggung


Menjadi temperamen dan mudah tersinggung. Meski hanya karena hal kecil. Kalo ada orang nulis status di media sosial mereka,  rasanya tulisan itu ditujukan ke saya. Hahaahaha... padahal kan belum tentu. Mungkin itu untuk dirinya sendiri, atau hanya untuk gabut semata. Siapa yang tahu, iya kan ?

Mungkin karena saya sering berniat menge-judge orang lain, saya berpikir bahwa orang lain akan memiliki niat yang sama dengan saya. Ya, gitu deh kalo banyak mikirin hidup orang lain. Kita sering kali lupa sama fokus hidup kita sendiri. Lama-lama ini akan mengancam kesehatan mental kita.

Itulah beberapa dampak Judging yang saya rasakan. Hingga suatu hari, Alhamdulillah, Allah SWT memberikan saya cobaan hidup. Cobaan yang kemudian membuat saya menjadi sadar bahwa , " entah berapa banyak waktu yang sudah saya sia-siakan ! ". Saking sibuknya ngejudge sana-sini, justru saya banyak kehilangan moment berharga tentang hidup.

START LIVING ! 


Demi bisa hidup lebih baik, akhirnya saya mempelajari self development. Meski awalnya sangat sulit, tapi saya bisa menata hidup menjadi lebih positif. Membuang pikiran-pikiran yang gak penting itu gak mudah ternyata. Apalagi jika sudah menjadi bagian mindset kita. Duuuuh... !



Ada beberapa cara yang saya gunakan untuk mengurangi kebiasaan judging. Beberapa diantaranya :


  • Memiliki Hobi positif. Art therapy adalah hobi baru yang saya gunakan untuk menghilangkan kebiasaan judging. Selain untuk mengasah skill, seni juga saya gunakan untuk terapi mental. 
  • Journaling. Menghilangkan kebiasaan judging itu tak semudah mengembalikan telapak tangan. Saya harus menemukan media lain, untuk mengurang sifat judging saya di media sosial. Hihihi.. Buku menjadi media baru untuk melimpahkan pikiran saya menggantikan timeline media sosial. Lebih menantang, karena kalo pas capek nulis pikiran, maka dengan sendirinya pikiran nge-judge terhadap sesuatu lama-lama sirna. Jadi lupa gitu Gaes. " Hmmm...  tadi mikirnya gimana ya ? " Hahhaa... 
  • Detox Media Sosial. Detox di sini bukan berarti menghilangkan kebiasaan sama sekali. Tapi mengurangi aktivitasnya dengan melewati beberapa proses. Seperti unfollow sumber berita yang merangsang saya untuk ngejudge. Ganti follow dengan akun-akun inspiratif atau tutorial. Membatasi jam-jam berseluncur di media sosial. Bahkan saya pernah mengikuti Challenge detox media sosial. Hahhaha... 
  • Uninstall Aplikasi yang merangsang saya untuk ngejudge. Awal-awal dulu. Saya sempet uninstall Facebook dan twitter selama 6 bulan. Lumayan bisa mengurangi kebiasaan saya ngejudge orang lain. Hahaha.... Saya menginstal kembali, dan melakukan perubahan besar, dengan hanya mengikuti akun-akun yang bisa membuat saya lebih produktif dan positif. 
  • Mengembangkan potensi diri.  Dibandingkan ngejudge sana-sani gak ada isi (jangan sambil nyanyi... ! Hahhaa). Saya lebih berpikir tentang bagaimana saya bisa mengembangkan potensi saya sendiri. Kemudian saya menemukan mantra yang mujarab " Compete With My Self " sebagai acuan untuk memperbaiki kualitas diri. Tanpa mantra tersebut, mustahil Blog ini ada seperti saat ini. Hahhaa... Yang pasti isinya bakalan keluhan tiada henti. 🤭🤭🤭🤭.

Mengurangi kebiasaan judging membuat hidup saya lebih bermakna dan bermanfaat. Untuk diri saya sendiri terutama. Kemudian saya ingin menularkan sisi positifnya ke teman-teman. Caranya, dengan memanfaatkan platform Blog ini untuk berbagi hal yang positif. Karena semakin sering kita mengkonsumsi informasi yang positif, akan berdampak pada kehidupan kita pula.




Oleh karena itu, saya membuat tagline Blog ini dengan " Compete with my self, encourage other ! ". Semangat positif yang saya bangun, ingin saya bagikan ke teman-teman pembaca. Semoga hidup kita bisa lebih bermakna dan bermanfaat.


So... Let's Stop Judging, Start Living ! 


You May Also Like

21 comments

  1. Akan capek sendiri ya kalau kita sibuk ngejudge orang lain. terlalu ambil pusing setiap judge dari orang lain. Kebetulan saya memang tidak begitu aktif di sosmed macam twitter atau ig. Detox sosmed saya lakukan di Fb saja.
    Untuk cuap-cuap melepaskan pendapat, saya lebih nyaman di blog.
    Bikin karakter emak jilbaban juga dong , mbak. Buat temannya si mbak bogwel. Kan kasian kalo gak ada yang ngomel-ngomelin dia. xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada karakter jilbab sebenarnya mbak.. hahhaa.. cuma belum banyak eksperesinya. Di beberapa postingan saya juga udah pernah muncul. Hahaha..

      Delete
  2. Emang kebiasaan ini udah jadi budaya kita, judging, sinis, dan hal buruk lainnya. Ntah gimana caranya buat menghentikan orang disekitar untuk judging ini T.T Cara yang saya lakukan cuma untuk tidak bergabung pada forum-forum seperti ini.

    Dan mereka ga tau dampak dari judging ini kepada si korban judging, seperti yang mbak tulis di tulisan ini..

    Tapi gimana ya ngubah mindset orang-orang seperti ini, kadang aktifitas lain tak dapat mengubahnya wahahahaha..

    Semoga kita dijauhkan dari sifat buruk seperti ini, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. harus punya kesadaran dan keinginan untuk berubah sih. Sayapun sekarang kalo melihat akun yang akan membuat saya " nyinyir ", langsung saya follow. Hahaha.. gak mau balik kayak dulu lagi. 🤭

      Delete
  3. Saya dulu gampang banget judging orang disosmed...apalagi Instagram. Lama-lama capek sendiri yaaaa... lalu saya menemukan blog sebagai tempat pengalihan energi xD daripada judging orang yang kita kenal aja enggak...mending ngutak-atik blog hihi

    and it works ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, pas rebranding Blog ini, tulisan saya terdahulu banyak yang saya hapus. Maluuuuu... Hahhaa.. banyak nyinyir gak faedah banget. Tapi paling tidak saya bisa belajar tentang bagaimana menjalani hidup sih (hiliiiiiih). Kalo gak pernah jadi orang nyinyir kan jadi gak bisa ngebandingin diri saya yg dulu dan sekarang 🤣🤣🤣🤣

      Delete
  4. Saya jadi berasa di pukpuk ama tulisan ini mba.
    Kayaknya ini saya di dahulu kala hahaha.
    Dikit2 ngejudge, bahkan sesuatu yang belum pernah saya alami sendiri, tapi berani banget ngejudge orang, ckckckck

    Setelah ngalamin sendiri, baru sadar, ternyata semuanya tidak selamanya sesuai pikiran kita, dan setiap orang punya tantangan masing-masing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul.. Setiap orang punya masalah dan cara penyelesaiannya sendiri. Gak harus selalu sama seperti kita. Karena setiap orang memiliki kemampuan bertahan dan berpikir yang berbeda-beda

      Delete
  5. saya selalu memposisikan diri sendiri jika seseorang judge diri saya seperti apa, lagi pula tidak ada manfaatnya menilai orang lain, lebih baik meningkatkan mutu diri sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Bli... 😊 Menilai orang lain, hanya akan membuang waktu percuma. By the way, webpage nya gak bisa dibuka.. apakah error ? 😭

      Delete
  6. I agree with u mba, sekarang mah bodo amat sama urusan yg ga penting tapi kita optimis sama kemampuan diri. Btw hobi emang mengalihkan kita dari kecanduan sosmed, jadi ga takut ketinggaln gosip��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Beberapa hobi juga bagus kayaknya. Jadi kita gak terjebak dalam kecanduan di dalamnya. Hahhaa... Biar imbang ya.. 😁😁😁 (kayak saya sekarang.. Nulis, Gambar, Desain ... (Maruk)

      Delete
  7. wajar saja nge judge bisa bikin lupa diri, yahh men judge orang kan paling enak daripada di judge orang wkwkwk apalagi didukung sama para judge ers yg lain, lengkap sudah makin gila

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. Banyak genksnya ya kaaak. Jadi arena bermain " api " gitu deh.. hahaha...

      Delete
  8. Aku merasa ditampar nih kak.. Dulu aku banget nih. Tp skrg aku lebih bnyk cicing dan malah takut klo ngomentarin. Tp kalo inget yg dulu ya itu malu dan nggilani rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kitaaa... Hahha.. Alhamdullah sudah disadarkan ya ? Hihihi.. 🥰

      Delete
  9. Postingan terpositif terhakiki yang saya baca hari ini. Warbiyasah. Betul Mak Bowgel, stop judging, start living. Menilai orang, itu benar-benar menguras enerji, sebenarnya. Karena kita tidak bakal berhenti di satu point. Dari satu, kita bakal nyari yang lain buat dinilai/judge lagi dan seterusnya. Hehehe. Saya sekarang lebih seneng kalau memamerkan kesenangan ketimbang menilai status medsos orang lain :D

    ReplyDelete
  10. Aku juga pernah mengalami itu. Alhamdulillah pelan2 bisa keluar dari dunia yg menyesatkan. Judgung di sosmed.

    ReplyDelete
  11. Salut mbak berani mengakui dan menyadari. Sebagian orang ada yang malah nggak sadar kalo dia hobi nge-judge. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat ini dan lingkungan yang toksin

    ReplyDelete
  12. judging sepertinya bakat alami manusia ya mbak, disadari atau enggak :" saya dulu judging tuh dari tampilan orang, lebih ke menghindari orang dengan tampilan tertentu gara gara takut mbak, padahal ada ungkapan don't judge a book by the cover :D

    ReplyDelete
  13. Statement terakhirnya sukaaa! Musuh yang harus dilawan itu diri sendiri ya. Sosial media itu trigger banget buatku untuk judge orang lain, makanya kalo lagi not in the mood, harus jauh-jauh dari medsos biar nggak kena racun. Intinya, just mind your own business aja deh. Capekkk ya ngurusin orang lain terus hahaha

    ReplyDelete

Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏