HIDUP DALAM KELUARGA HETEROGEN

by - December 25, 2019

toleransi keluarga



[Start Your Day With Ewafebri] Seperti apa hidup dalam keluarga heterogen ? Hmmm... Bakalan panjang ceritanya. Tapi itu membuat saya banyak belajar untuk mengendalikan ego diri sendiri. Rasanya seperti apa sih ? Hihihi..


HIDUP DALAM KELUARGA HETEROGEN



Dibesarkan dalam keluarga yang heterogen membuat saya terbiasa dengan banyak perbedaan, perayaan dan tradisi. Dalam keluarga kami, toleransi sudah bukan hal baru yang harus dipelajari. 

Setiap keluarga tentu memiliki kisah yang berbeda-beda. Hamdalah, meski keluarga besar saya berbeda, saya tetap diberi kebebasan untuk memilih keyakinan yang saya inginkan dan saya jalani. Meski untuk mencapai hal itu, ada banyak proses yang terjadi.


DUA JALAN MENUJU KEABADIAN


Lukisan 3D oleh ewafebri


Pernah berada di dua jalan , membuat saya banyak belajar tentang hidup. Bukan tentang jalan mana yang benar dan mana yang salah.

Bagi saya memilih jalan hidup itu, tentang bagaimana saya bertanggung jawab sama pilihan saya itu sendiri.

Bagaimana saya menjalankannya dengan cara yang baik, tanpa harus menjelekkan dan merendahkan pilihan yang lainnya. Apalagi merasa yang paling benar (berakhlaq mulia) tanpa dosa-dosa. 😘😘

Keputusan memilih jalan yang saya yakini pun bukan karena paksaan atau intervensi orang lain. Tapi karena memang saya menginginkannya. Dan itupun tetap didukung oleh keluarga besar.

Mereka juga gak pernah mempertanyakan kenapa saya memilih jalan yang berbeda, karena mereka menghormatinya.



Baca Juga : 




KEBEBASAN MEMILIH



Beberapa tahun lalu, ketika saya memutuskan menggunakan kerudung, pun sempat terjadi pergulatan batin yang luar biasa dalam diri sendiri.

Saya sempat takut, ragu dan bingung menghadapi respon keluarga. Apakah mereka akan menerima perubahan saya ? Atau justru sebaliknya ? 

Tapi ketakutan saya gak beralasan rupanya. Hahaha..

Sama seperti ketika saya memutuskan memilih jalan yang berbeda, mereka bahkan mendukung dengan memberikan beberapa helai scarf (yang saya jadikan kerudung), karena saya gak punya banyak stock pengganti. 

Ada juga yang berinisiatif membelikan baju lengan panjang, karena mereka tahu baju saya dulunya kaos oblong semua. Hahahaaa..





SUPORTIF


Apakah mereka mengasingkan saya ? 

Tidak.

Mereka tetap menganggap saya seorang anak dan keluarga. Saya diperlakukan dengan baik, seperti biasa.

Mereka bahkan selalu mengingatkan saya untuk sholat, membangunkan sahur pada saat puasa, menyiapkan buka puasa di bulan Ramadan, membuatkan kue dan masakan saat hari raya Idul Fitri.

Bahkan Tante saya yang bukan muslim pun menyediakan mukena atau sajadah, kalo-kalo ada keluarga muslim yang membutuhkan keperluan Sholat tapi tidak membawanya.

Soal makanan, juga tak perlu kuatir. Mereka menyiapkan makanan, yang memang aman bagi kami (semua) untuk mengonsumsi. 

Bagi keluarga kami, tak ada perbedaan yang berarti. Kami masih tinggal dalam satu atap dan menunaikan ibadah kami masing-masing. Tanpa saling mengoreksi mana yang paling benar, mana yang tidak. 

Saat Natal pun kami sama-sama menikmati makanan yang sudah disediakan dan ngobrol tentang hal-hal ringan.

Kami menghindari membicarakan hal-hal yang sifatnya memecah belah, memprovokasi atau menyinggung satu sama lainnya.


KESIMPULAN 


Mr. Santa 


Pedoman hidup bagi keluarga saya adalah mutlak pilihan individu masing-masing yang harus saling dihormati. Gak boleh saling dipaksakan dan gak boleh saling mengintervensi. Apalagi memaki, yekan ?

Kadang hidup sesederhana itu, ada hal yang gak perlu kita campuri, apalagi jika menyinggung tentang hal prinsip seseorang.

Karena memang setiap manusia berfikir dengan cara yang berbeda. Dan biarkanlah itu menjadi pilihan masing-masing personalnya saja.

Perdebatan dalam hidup saya tak sesederhana tentang "haram tidaknya mengucapkan Natal" lagi, 🤭🤭🤭 tapi lebih rumit dari itu.

Mungkin bagi anak-anak yang dibesarkan di keluarga heterogen, tahu bagaimana rasanya berperang melawan gejolak batin diri sendiri. 🤣🤣🤣

Semakin tua, saya semakin sadar. Yang perlu saya lakukan adalah memperbaiki cara saya dalam menjalankan apa yang saya yakini dengan baik dan benar.

Cukup itu dulu, itu pun masih banyak yang harus diperbaiki. Daripada saya sibuk mengoreksi cara orang lain, akan lebih baik jika saya memanfaatkan waktu untuk terus belajar memperbaiki diri sendiri.

Compete With My Self tetap menjadi quote terbaik.


Salam Damai ! 

You May Also Like

0 comments

OTHER ARTICLES :