بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Kamu pernah penasaran nggak sih, kenapa belakangan banyak banget berita bunuh diri di sosial media?
Beberapa tahun belakangan ini saya sering merasa ada sesuatu yang berubah dalam kehidupan manusia. Entah kenapa, kabar tentang orang yang mengalami depresi semakin sering terdengar. Kadang datang dari berita, kadang justru dari status media sosial teman sendiri. Ada yang dengan jujur mengaku sedang tidak baik-baik saja. Ada juga yang terlihat aktif, produktif, bahkan ceria—tetapi ternyata diam-diam sedang berjuang sendirian.
MENGAPA AKHIR-AKHIR INI BANYAK ORANG YANG MENGALAMI DEPRESI?
Saya mulai menyadari bahwa depresi hari ini bukan hanya persoalan individu. Ada sesuatu yang sedang terjadi secara kolektif dalam kehidupan manusia modern. Banyak orang terlihat “hidup”, tetapi jiwanya sebenarnya sedang lelah.
Dalam kajian Psikologi Klinis, depresi memang dipahami sebagai kondisi kesehatan mental yang serius. Bahkan World Health Organization menyebut depresi sebagai salah satu gangguan kesehatan yang terus meningkat di seluruh dunia.
Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan manusia sekarang?
Dunia Terlalu Bising untuk Pikiran Kita
Salah satu hal yang saya sadari adalah betapa bisingnya dunia modern. Kita bangun tidur langsung membuka ponsel. Notifikasi datang dari mana-mana. Berita, komentar, opini, drama sosial, semuanya masuk ke kepala kita hampir tanpa jeda.
Platform seperti Instagram, TikTok, atau X (Twitter) membuat kita terus terhubung dengan dunia. Kedengarannya bagus, tapi kadang saya merasa otak kita sebenarnya tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk diam.
Bayangkan saja. Dalam satu hari kita bisa melihat ratusan bahkan ribuan potongan kehidupan orang lain. Otak kita terus memproses informasi, emosi, dan opini yang sebenarnya bukan bagian langsung dari hidup kita.
Lama-lama pikiran menjadi lelah. Dan ketika pikiran terlalu lelah terlalu lama, jiwa pun mulai ikut kelelahan.
Kita Terlalu Sering Membandingkan Diri
Hal lain yang sering saya perhatikan adalah kebiasaan manusia membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Dulu mungkin kita hanya membandingkan diri dengan teman sekolah atau tetangga. Sekarang? Kita membandingkan hidup kita dengan seluruh dunia.
Fenomena ini dijelaskan dalam psikologi melalui konsep Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh Leon Festinger. Intinya sederhana: manusia memang punya kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Apalagi dibarengi dengan haus validasi.
Masalahnya, yang kita lihat di internet biasanya hanya bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kita melihat pencapaian, kebahagiaan, perjalanan, atau kesuksesan mereka. Yang jarang terlihat adalah kegagalan, kesedihan, atau perjuangan yang mereka alami.
Tanpa sadar, kita mulai merasa seperti tertinggal. Seolah-olah semua orang sedang bergerak maju, sementara kita masih berada di tempat yang sama.
Perasaan seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika terus terjadi, ia bisa perlahan menggerogoti rasa percaya diri seseorang.
Banyak Orang Sebenarnya Sedang Membawa Luka
Semakin lama saya juga menyadari satu hal: banyak orang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang membawa luka yang tidak pernah mereka ceritakan.
Luka itu bisa datang dari banyak hal. Masa kecil yang tidak mudah. Hubungan keluarga yang rumit. Kehilangan orang yang dicintai. Tekanan hidup yang datang bertubi-tubi.
Tidak semua orang punya ruang untuk membicarakan hal-hal seperti ini. Dalam banyak budaya, membicarakan kesehatan mental masih sering dianggap berlebihan atau bahkan memalukan.
Akhirnya banyak orang memilih untuk diam.
Mereka tetap bekerja, tetap beraktivitas, tetap tersenyum. Tetapi di dalam dirinya, ada bagian yang sebenarnya sedang lelah.
Jiwa yang Kehilangan Arah
Ada satu ayat Al-Qur’an yang sering sekali membuat saya berhenti sejenak dan berpikir.
Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 disebutkan bahwa hati manusia hanya akan menemukan ketenangan ketika mengingat Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.Ar-Ra‘d [13]:28
Semakin saya merenungkan ayat ini, semakin saya merasa bahwa kegelisahan manusia modern mungkin juga berkaitan dengan sesuatu yang lebih dalam: kehilangan arah spiritual.
Hari ini banyak orang mengejar banyak hal—karier, pencapaian, pengakuan sosial, bahkan citra diri di internet. Tetapi di tengah semua itu, tidak sedikit yang merasa kosong.
Psikiater terkenal Viktor Frankl pernah menyebut kondisi ini sebagai Existential Vacuum, yaitu keadaan ketika manusia kehilangan makna hidupnya.
Ketika hidup kehilangan makna, bahkan kesuksesan pun bisa terasa hampa.
Hal-Hal Sederhana yang Saya Coba Lakukan untuk Menjaga Kesehatan Jiwa
Saya tidak berpikir ada solusi instan untuk masalah sebesar ini. Tentunya kalau kadar kecemasan dan kesehatan jiwa setiap orang berbeda-beda, bila kamu merasa level gangguannya besar, jangan ragu untuk meminta pertolongan pada yang lebih ahlinya agar dibantu mencarikan solusi. Tapi ada beberapa kebiasaan kecil yang menurut saya cukup membantu menjaga kesehatan jiwa di tengah dunia yang semakin ramai.
1. Memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat
Kadang saya sengaja menjauh dari media sosial untuk beberapa waktu. Bukan karena membencinya, tapi karena pikiran juga butuh ruang untuk bernapas. Terkadang sosial media membuat kita terjebak pada fenomena "oversharing" jadi tanpa sadar kita terlalu banyak membagikan hal personal kepada khalayak.
Nah, namanya "dibagikan ke publik" tentu kita sering mendapatkan feedback yang beragam, entah itu yang memvalidasi, yang setuju dengan pendapat kita, yang berlawanan, yang terparah adalah yang modal mencaci tanpa memberikan solusi. Hal yang seperti inilah sumber overthinking kita. Tidak semua hal harus kita bagikan atau lihat, tidak semua informasi harus kita konsumsi setiap hari.
2. Menjaga hubungan yang benar-benar nyata
Saya mulai menyadari bahwa percakapan sederhana dengan orang yang kita percaya bisa sangat berarti. Hubungan yang tulus sering menjadi tempat kita kembali ketika hidup terasa berat. Mencari validasi pada semua orang, kadang justru menimbulkan dampak dan konflik baru. Terlebih jika respons mereka tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Jadi, sebelum kita membagikan semua hal, kita juga perlu belajar menjadi dewasa untuk menerima feedback response dari semua orang.
3. Menulis untuk memahami diri sendiri
Menulis sering menjadi cara saya berbicara dengan diri sendiri. Kadang kita tidak benar-benar tahu apa yang kita rasakan sampai kita menuliskannya. Menulis adalah mengurai pikiran yang ada di kepala kita menjadi sesuatu yang bisa kita review, pahami dan cari solusinya. Memikirkannya kadang hanya membuat penuh isi kepala. Journaling membantu kita mengurai pikiran yang kusut sedikit demi sedikit.
4. Menguatkan hubungan dengan Allah
Hal lain yang semakin saya sadari adalah pentingnya menjaga hubungan spiritual. Shalat, membaca Al-Qur’an, atau sekadar duduk tenang sambil berdzikir sering memberi rasa tenang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Terlebih lagi jika kita mau mentadaburri. Karena sebenarnya "tadabbur" itu mengajarkan kita untuk berpikir dan kontemplasi terhadap satu topik tertentu. Dari perenungan ini kita bisa mendapatkan ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
5. Terapi Mental
Beberapa waktu lalu, saya belajar tentang Ibnu Sina dan caranya dalam merawat jiwa termasuk bagaimana konsep terapi mental yang beliau gunakan. Anehnya, untuk merawat mental dan jiwa kita justru malah dianjurkan untuk mencari ilmu, berfilsafat (berpikir dan merenung yang bisa kita lakukan melalui tadabbur) dan juga mengelola cara berpikir kita.
Membangun hubungan dengan Allah artinya jiwa diingatkan kembali bahwa ia tidak sendirian menjalani hidup ini, meskipun kita seorang diri.
Mungkin masalah terbesar manusia modern bukan hanya karena hidup terlalu berat.
Bisa jadi karena kita terlalu sibuk menjalani hidup, sampai lupa merawat jiwa kita sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat ini, salah satu hal paling penting yang bisa kita lakukan adalah belajar berhenti sejenak… lalu kembali mendengarkan diri kita sendiri.







0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏