بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Akhir-akhir ini saya lagi sering mikir. Ini semacam curhat, sih. Kadang pelajaran hidup itu nggak selalu harus datang dari pengalaman yang benar-benar kita alami sendiri. Kadang justru kita belajar dari nontonin hidup orang lain. Dari drama yang bukan kita tokohnya, tapi somehow kok nusuk juga ke diri sendiri.
Sejak saya baca bukunya Amy E. Herman tentang Visual Intelligence, saya jadi lebih sering “melambat” dan memperhatikan sekitar. Cara orang bersikap. Cara orang bereaksi. Termasuk saya juga jadi berani lihat lagi ke belakang ke versi diri saya yang dulu. Dan jujur… nggak semuanya enak dilihat.
Kenapa saya tiba-tiba kepikiran soal ego?
Karena menurut saya, ego itu mahal banget. Tapi lucunya, kita jarang sadar kalau lagi pegang barang mahal itu.
Ego itu aneh. Di diri sendiri susah banget dikenali. Tapi di orang lain? Kelihatan jelas. Kita gampang bilang, “Ih dia kok sombong banget.” “Ih dia kok ngerasa paling benar.” Tapi giliran diri sendiri? Kita punya sejuta alasan buat membenarkan sikap kita. Kita bilang itu prinsip. Kita bilang itu harga diri. Kita bilang itu standar.
Padahal bisa jadi itu cuma ego yang lagi minta makan.
Sering kali kita nggak sadar kalau ego kita udah tinggi banget sampai mulai nyakitin orang lain. Sampai orang-orang pelan-pelan menjauh. Sampai kita dicap “ribet”, “terlalu”, atau bahkan “problematik”. Dan yang lebih nyesek, kita merasa jadi korban. Kita ngerasa nggak dimengerti.
Padahal mungkin… kita cuma nggak mau kalah.
Media sosial juga jadi ladang subur buat ego. Kita nggak mau diremehkan. Kita pengen divalidasi. Pengen dilihat. Pengen dianggap punya level. Akhirnya semua kita pajang—quote, opini, pencapaian, bahkan luka. Tanpa sadar, semua jadi display. Semua jadi konten. Semua menunggu feedback.
Like.
Komentar.
Share.
Validasi.
Dan makin hari, dosisnya makin nambah.
Apalagi kalau obsesi kita adalah viral dan terkenal. Kita bisa lupa kalau ada hal-hal yang seharusnya tetap jadi privasi. Oversharing demi engagement. Buka-bukaan demi eksistensi. Bahkan kasus-kasus beasiswa seperti LPDP yang sempat ramai itu juga berawal dari kebutuhan validasi dan kontrol narasi di media sosial. Ujungnya? Bukan cuma diri sendiri yang kena dampaknya. Lingkungan, institusi, bahkan orang-orang yang nggak ada hubungannya ikut kena getahnya.
Ego itu memang mahal.
Tapi yang bikin ngeri, bayarannya bukan uang.
Bayarannya kehancuran.
Bayarannya kehinaan.
Bayarannya kehilangan kepercayaan.
Bayarannya dijauhi orang.
Bayarannya reputasi yang runtuh pelan-pelan.
Kadang kita nggak sadar.
Kadang kita denial.
Kadang kita sibuk nyalahin orang lain.
Kadang kita hancur… tapi tetap nggak mau ngaku itu karena ego.
Untuk “memberi makan” ego, kita rela keluarin banyak hal: waktu, tenaga, pikiran, bahkan relasi. Kita bangun citra. Kita rawat image. Kita jaga supaya tetap terlihat unggul. Terlihat lebih tahu. Terlihat lebih benar.
Padahal di saat yang sama, ego itu lagi kerja diam-diam di dalam. Pelan-pelan ngikis kewarasan. Bikin kita defensif. Bikin kita overthinking. Bikin kita terus cari alasan, “Saya begini karena mereka.” “Saya begitu karena situasi.” Sampai akhirnya kita capek sendiri.
Ego itu nggak pernah benar-benar kenyang.
Dan semakin kita turuti, semakin mahal harga yang harus kita bayar.
Mungkin yang paling sulit bukan mengalahkan orang lain. Tapi mengalahkan ego sendiri.







0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏