FREE DOWNLOAD EBOOK: MONOLOG V

FREE DOWNLOAD EBOOK: MONOLOG V

Hai pencari cahaya! ✨🌝 

 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Akhirnya saya bisa juga menyelesaikan ebook ini. Menulis Monolog 5 bukan proses yang singkat buat saya. Ia lahir dari kebingungan, jeda panjang, dan pertanyaan yang berulang: “Apa lagi yang bisa saya ceritakan?” 


Jika di monolog sebelumnya saya banyak menulis tentang keresahan dan pengalaman pribadi sehari-hari, kali ini rasanya berbeda. Bukan karena hidup saya tanpa masalah ya, tetapi karena pola masalahnya terasa serupa, kayaknya tuh datang dari sumber yang itu-itu saja. Saya takut kalian pada bosan. Jadi saya pun mencari jalan keluarnya.

FREE DOWNLOAD EBOOK: MONOLOG V

Title: Monolog V [Monolog Series]
Author: Ewafebri
Format: 42 pages, Ebook
Category: Essay
Published: February 12, 2026
ISBN: -
ASIN: -
Language: Indonesian
----------------------------
----------------------------

Saya menyadari satu hal penting: mungkin saya tidak harus selalu menjadi pusat cerita. Buku-buku yang saya baca bisa menjadi jembatan. Mereka bukan sekadar bacaan, tetapi ruang dialog. Dari sanalah Monolog 5 menemukan bentuknya: sebuah kumpulan refleksi dari buku-buku yang pernah saya baca, baik fiksi maupun nonfiksi, yang saya olah kembali menjadi esai personal yang lebih luas dan bernapas panjang.

Fiksi dan Non-Fiksi

Salah satu buku yang saya bahas adalah Namaku Sita karya Sapardi Djoko Damono. Buku ini seperti ruang sunyi yang penuh gema. Sita bukan hanya tokoh, tetapi refleksi tentang identitas, peran, dan bagaimana perempuan memaknai keberadaannya. Dalam buku ini, saya melihat bagaimana bahasa bisa begitu lembut tetapi menyimpan kedalaman yang tidak sederhana.

Saya juga menyinggung Call Ibi karya Nukila Amal. Novel ini terasa eksperimental, personal, dan sekaligus liar dalam cara bertutur. Ia seperti percakapan batin yang tidak selalu ingin dimengerti secara instan. Membacanya membuat saya sadar bahwa tidak semua cerita harus rapi; kadang justru kekacauan adalah bentuk paling jujur dari pikiran manusia.

Dari dua buku ini, saya belajar bahwa fiksi bukan sekadar cerita. Ia adalah cermin. Monolog 5 menggunakan keduanya sebagai medium untuk membicarakan identitas, kesepian, dan dialog batin—tanpa harus selalu mengulang cerita hidup saya sendiri.

Luka, Terapi, dan Kejujuran Emosional

Buku berikutnya yang saya bahas adalah I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki 2 karya Baek Se-hee. Buku ini adalah lanjutan percakapan tentang kesehatan mental, terapi, dan kejujuran pada diri sendiri. Gaya dialog antara penulis dan psikiaternya terasa sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya, ia tidak berusaha terlihat puitis, hanya ingin jujur.


Dalam Monolog 5, saya tidak membahasnya sebagai buku self-help biasa. Saya melihatnya sebagai arsip percakapan yang berani memperlihatkan rapuh. Di masa ketika saya merasa permasalahan hidup saya berulang dan membosankan, buku ini mengingatkan bahwa perasaan yang terasa “itu-itu saja” pun tetap layak didengar.

Melalui buku ini, saya belajar bahwa refleksi tidak selalu harus dramatis. Kadang pertumbuhan terjadi lewat pengakuan kecil: bahwa kita lelah, bahwa kita bingung, bahwa kita masih ingin makan tteokbokki meski sempat ingin menyerah pada hidup.

Kebebasan, Filsafat, dan Cara Memandang Hidup

Bagian lain dari Monolog 5 membahas How to Be Free karya Epictetus yang diterjemahkan oleh Anthony A. Long. Buku ini membawa saya ke ranah filsafat Stoa—tentang kebebasan batin dan kendali diri. Ia terasa kontras dengan buku-buku sebelumnya, tetapi justru di situlah letak kekayaannya.

Epictetus berbicara tentang apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak. Di tengah kegelisahan saya tentang topik dan arah tulisan, buku ini seperti mengingatkan: saya tidak bisa mengendalikan semua pengalaman hidup, tetapi saya bisa memilih bagaimana meresponsnya. Kebebasan bukan tentang situasi eksternal, melainkan tentang sikap hati sebagai dunia internal kita.

Dengan menghadirkan filsafat dalam Monolog 5, saya merasa topik yang tadinya terasa stagnan menjadi lebih luas. Masalah yang “itu-itu saja” ternyata bisa dilihat dari sudut pandang berbeda. Dan dari sanalah esai-esai dalam buku ini menemukan napasnya: lebih reflektif, lebih beragam, dan tidak terjebak dalam satu jenis keresahan.

Mengapa Monolog 5 Lama Selesainya?

Karena saya sempat kehilangan arah. Saya takut mengulang pola. Saya ragu apakah cerita yang sama masih layak ditulis. Tetapi justru dari kebingungan itu saya menemukan cara baru: menjadikan buku sebagai materi dialog, sebagai referensi ilmu, sebagai cermin yang memperluas perspektif.

Monolog 5 bukan tentang saya semata. Ia adalah pertemuan antara saya dan buku-buku yang membentuk cara saya berpikir. Topiknya beragam, genrenya berbeda-beda, dan justru di situlah letak keutuhannya.

Jika kamu ingin membaca refleksi lengkapnya: tentang identitas, luka, kebebasan, dan percakapan hati yang jujur.

Jangan lupa download eBook Monolog 5 sekarang ya dan temukan ruang dialogmu sendiri di dalamnya. Selamat Membaca!





0 Komentar