بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada kalanya buku tidak kita pilih, tetapi justru “datang” ketika kita sedang berada di fase tertentu dalam hidup. Pengalaman meminjam I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki dari PYC DigiLib terasa seperti itu. Berawal dari pilihan yang tampak acak, wishlist yang lama kosong, hingga notifikasi yang muncul di waktu yang tepat.
BOOK REVIEW: I WANT TO DIE BUT I WANT TO EAT TTEOKPOKKI 2
Title: I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki
Author: Baek Se-Hee
Format: 232 pages, Paperback
Category: Self Help
Published: August 1, 2020 by Haru
ISBN: 9786237351474 (ISBN10: 6237351477)
ASIN: 6237351477
Language: Indonesian
Rating: ⭐⭐⭐⭐
Dalam psikologi, fenomena "kebetulan" ini sering disebut sebagai meaningful coincidence atau Synchronicity, momen dimana sesuatu terasa relevan bukan karena kebetulan semata, tetapi karena kondisi jiwa kita sedang terbuka untuk menerimanya.
Ketertarikan saya pada buku ini juga tidak lepas dari kabar tentang kematian sang penulis. Secara psikologis, manusia memang cenderung lebih penasaran pada karya yang lahir dari penderitaan nyata.
Kita seperti ingin memahami: apa yang sebenarnya terjadi di balik pikiran seseorang yang tampak baik-baik saja di luar, namun menyimpan luka di dalam. Rasa ingin tahu ini bukan sekadar voyeurisme emosional, melainkan upaya memahami diri sendiri lewat cerita orang lain.
Dari sudut pandang filsafat, membaca karya seperti ini adalah bentuk dialog sunyi antara pembaca dan pengalaman hidup penulis. Kita tidak hanya mengonsumsi cerita, tetapi juga meminjam kesadarannya.
Secara spiritual, momen ini mengajarkan bahwa ilmu dan hikmah sering datang melalui jalan yang tidak kita rencanakan, termasuk lewat buku yang “tersisa” di rak digital.
Ekspektasi dan Realita
Judul buku ini sempat menghadirkan ekspektasi yang ringan: kuliner Korea, cerita santai, dan bacaan pengisi waktu luang.
Namun justru di situlah letak ironi yang kuat. Psikologi menyebutnya sebagai expectation mismatch, ketika realita yang kita temui jauh berbeda dari bayangan awal, dan perbedaan itu justru memicu refleksi emosional yang lebih dalam.
Alih-alih cerita makanan yang hangat, buku ini membawa saya masuk ke ruang interview antara Se-Hee dan psikiaternya: ruang yang sunyi, jujur, dan tidak selalu nyaman.
Dari sisi neuroscience, percakapan reflektif seperti ini membantu otak memproses emosi yang selama ini terpendam di alam bawah sadar. Membaca dialog terapi sering kali membuat pembaca ikut melakukan self-reflection tanpa disadari.
Secara filosofis, ini mengingatkan bahwa hidup jarang sesuai ekspektasi, dan justru ketidaksesuaian itulah yang sering menjadi pintu kesadaran. Dalam spiritualitas, pengalaman ini mengajarkan sikap tawadhu: menerima bahwa tidak semua hal hadir untuk menghibur, sebagian hadir untuk menyadarkan dan menyembuhkan, meski awalnya terasa tidak nyaman.
Menulis sebagai Katarsis
Kegelisahan Se-Hee sebagai penulis yang tidak diperbolehkan menulis adalah paradoks yang sangat manusiawi. Dalam psikologi, menulis dikenal sebagai expressive writing, sebuah metode katarsis yang terbukti secara ilmiah membantu mengurangi stres, kecemasan, bahkan gejala depresi. Ketika saluran ekspresi ini ditutup, emosi yang tidak tersalurkan cenderung menumpuk dan berubah menjadi kecemasan.
Pengalaman ini terasa sangat dekat dengan realitas banyak orang dewasa modern: bekerja dalam sistem, menjadi bagian dari tim, sambil berusaha menjaga ruang personal untuk berkarya. Dari sudut pandang filsafat eksistensial, konflik ini adalah pergulatan antara “menjadi” dan “berfungsi”. Ketika manusia hanya diperlakukan sebagai fungsi, jiwanya perlahan kehilangan suara.
Secara spiritual, menulis bisa dipandang sebagai bentuk ibadah, cara manusia merawat akal dan hatinya. Sains pun mendukungnya: aktivitas kreatif membantu menyeimbangkan sistem saraf dan meningkatkan emotional regulation. Maka, larangan untuk menulis bukan sekadar soal produktivitas, tetapi soal kesehatan mental dan keberlangsungan jiwa.
Pikiran, Trauma, & Jalan Pulang Menuju Kesadaran
Salah satu gagasan kuat dalam buku ini adalah bahwa pikiran kitalah yang sering menyiksa diri kita sendiri. Psikologi kognitif menyebutnya sebagai cognitive distortion—pola pikir yang terbentuk dari trauma masa lalu dan membuat kita bereaksi berlebihan terhadap realitas. Pikiran ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan dibentuk oleh pengalaman, luka, dan ingatan yang belum selesai.
Dalam konteks relasi dan jodoh, trauma masa lalu sering membuat seseorang memilih jarak sebagai bentuk perlindungan diri.
Dari sudut pandang sains, otak manusia memang dirancang untuk menghindari rasa sakit, meski terkadang caranya berlebihan. Secara filosofis, ini adalah bentuk kehati-hatian eksistensial: memilih ketenangan dibandingkan keterikatan yang berpotensi melukai.
Di sinilah ilmu, filsafat, dan spiritualitas bertemu. Seperti nasihat Ibnu Sina, terapi mental bukan hanya soal obat, tetapi juga pemahaman, refleksi, dan kesadaran spiritual.
Kesadaran yang utuh—tidak dilumpuhkan oleh pelarian seperti alkohol—membantu manusia menghadapi luka dengan jujur. Dan mungkin, seperti yang disiratkan buku ini, penyembuhan tidak selalu berarti bahagia, melainkan mampu hadir sepenuhnya dalam hidup, dengan pikiran yang lebih jernih dan hati yang lebih tenang.
Self Talk [Teori Psikodrama]
Setelah menyadari bahwa pikiran kitalah yang kerap menyiksa diri sendiri, muncul satu pertanyaan lanjutan: bagaimana cara menghadapi pikiran itu tanpa terus terperangkap di dalamnya?
Di halaman 118, Se-Hee menyinggung praktik self talk dengan cara yang tidak biasa, bukan hanya berbicara dalam hati, tetapi mengucapkannya secara langsung. Ia seolah memindahkan dialog batin ke ruang nyata, menjadikannya sesuatu yang bisa didengar, dirasakan, dan direspons dengan lebih sadar.
Dalam kajian psikologi, praktik ini berkaitan erat dengan teori psikodrama yang dikembangkan oleh Jacob L. Moreno.
Psikodrama adalah metode terapi yang menggunakan peran, dialog, dan ekspresi spontan untuk membantu individu memahami konflik batin yang selama ini tersembunyi.
Dengan berbicara langsung kepada diri sendiri, seseorang berperan sekaligus sebagai “pemeran” dan “penonton” atas emosinya. Secara ilmiah, teknik ini membantu mengaktifkan bagian otak yang berperan dalam emotional processing dan self-regulation, sehingga emosi tidak hanya berputar di kepala, tetapi diproses secara lebih utuh.
Dari sudut pandang filsafat dan spiritual, berbicara pada diri sendiri bukan tanda kegilaan, melainkan bentuk kejujuran eksistensial. Ia adalah upaya menghadirkan kesadaran penuh: mengakui rasa takut, marah, dan luka tanpa menyangkalnya.
Dalam neuroscience, suara yang diucapkan secara nyata memiliki dampak berbeda dibandingkan dialog batin, karena melibatkan sistem sensorik dan motorik sekaligus. Mungkin inilah yang disadari Se-Hee: bahwa terkadang, untuk menyembuhkan diri, kita perlu berani mendengar suara kita sendiri, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menemani.
Bagi sebagian orang, self talk dilakukan dengan suara keras. Bagi yang lain, seperti saya, ia hadir dalam bentuk dialog di dalam pikiran atau tulisan.
Ketika saya menulis, saya sedang mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, mendengarkan jawabannya, lalu meresponsnya kembali dengan sudut pandang yang lebih tenang.
Tulisan memberi ruang untuk berpikir tanpa tergesa-gesa. Ia memungkinkan kita memerankan dua sisi sekaligus: diri yang terluka dan diri yang berusaha memahami. Dalam psikologi, ini disebut sebagai metacognition: kemampuan untuk menyadari dan memahami proses berpikir kita sendiri. Kesadaran inilah yang sering menjadi kunci munculnya perspektif baru.
Dari sisi spiritual, menulis membantu kita hadir sepenuhnya. Kita tidak melarikan diri dari rasa sakit, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Sains pun mendukung hal ini: expressive writing terbukti membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kejernihan emosi. Menulis bukan sekadar curhat, tetapi bentuk perawatan batin yang sadar.








0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏