بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Namaku Sita, puisi karya Sapardi Djoko Damono, menjadi salah satu eBook dari PYC Library yang saya baca dengan niat yang cukup sederhana. Tidak ada ekspektasi besar selain keinginan belajar merangkai kalimat puitis dan memperkaya kosakata. Saya berharap, lewat buku ini, saya bisa menemukan lebih banyak alternatif kata yang tidak hanya indah, tetapi juga hidup ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat.
BOOK REVIEW: NAMAKU SITA KARYA SUPARDI DJOKO DAMONO
Title: Namaku Sita
Author: Sapardi Djoko Damono
Format: 69 pages, Paperback & Ebook
Category: Self Help
Published: January 1, 2012 by Editum
ISBN: 9786028876087 (ISBN10: 6028876089)
ASIN: 6028876089
Language: Indonesian
Rating: ⭐⭐⭐⭐
Ketertarikan awal saya pada buku ini juga dipengaruhi oleh judulnya. Nama “Sita” terasa personal dan sarat makna, seolah merujuk pada satu sosok dengan peran khusus dalam semesta puisi Sapardi. Dalam bayangan saya, buku ini akan menghadirkan satu tokoh utama yang utuh, dengan latar dan emosi yang dapat dilacak secara jelas dari awal hingga akhir.
Namun, seiring membaca, saya menyadari bahwa ekspektasi itu lahir dari kebiasaan membaca prosa, bukan puisi. Saya sempat lupa bahwa puisi bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak selalu menawarkan kejelasan tokoh atau alur, melainkan membuka ruang tafsir yang luas. Karakter dalam puisi tidak harus tunggal, stabil, atau memiliki batas yang tegas.
Di titik itu, membaca Namaku Sita menjadi pengalaman yang lebih pelan dan kontemplatif. Sita tidak lagi hadir sebagai satu figur yang bisa saya pahami sepenuhnya, melainkan sebagai kumpulan makna yang terus bergerak. Ia bisa menjadi siapa saja, atau bahkan menjadi perasaan itu sendiri, yang hanya bisa dirasakan, bukan didefinisikan secara pasti.
Kali ini “Sinta” modern versi Sapardi menggambarkan bahwa perempuan dari masa ke masa selalu dianggap sebagai “objek” perebutan bagi kaum laki-laki. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan tangguh namun tidak memiliki kemampuan untuk menentukan nasib dan kisahnya sendiri.
Secara genre dan struktur buku ini merupakan kumpulan prosa yang isinya tidak tersusun naratif seperti novel. Sapardi melakukan reinterpretasi terhadap karakter tradisional “Sinta” dalam kisah pewayangan Ramayana. Dari mulai asal-usul Sita yang kompleks hingga penggambaran karakternya saat dewasa yang melankolis.
Keunikan dari buku ini adalah menggabungkan dialog seperti sebah skrip pertunjukan di mana sudut pandangnya di ambil dari tokoh Ki Dalang, Sita dan Rakyat sebagai penonton sekaligus pemrotes.
Kekuatan dan Kerentanan Wanita
Merenungkan karakter Sita, mengingatkan saya pada kisah diri sendiri. Bagaimana saya berjuang untuk didengar meski hanya dalam lingkup keluarga, dan bagaimana saya berusaha melepaskan diri dari jerat perjodohan yang tak pernah saya kehendaki dari waktu ke waktu.
Saya sadar, menjadi orang tua itu tidak mudah, mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sayangnya, tidak semua orang tua memberikan kesempatan pada anak-anaknya agar bisa terlibat dalam menentukan keputusan dalam hidupnya.
Saat mereka masih kanak-kanak, menurut saya sangat wajar apabila orang tua membantu memilihkan keputusan terhadap anak-anaknya. Namun, ketika mereka sudah menginjak dewasa dan diberikan kemampuan berpikir yang sehat dan baik, sudah semestinya orang tua memberikan kepercayaan untuk menentukan hidupnya masing-masing. Karena setiap jiwa memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda, termasuk berbeda dari kehendak orang tuanya.
Tidak semua orang tua memiliki kebijaksanaan yang sama. Terkadang ada orang tua yang tidak pernah mau mencari tahu “mengapa anakku tidak kunjung menikah di usia seperti sekarang?” Mereka rajin mencarikan pasangan-pasangan baru seolah memperlakukan anaknya seperti sebuah tropi. Sementara sang anak sedang memiliki trauma dalam berhubungan dengan lawan jenis. Bukannya membantu untuk menyembuhkan atau memberi ruang bagi mereka untuk sembuh, tapi justru malah menambah traumanya semakin dalam.
Belajar Memahami Takdir
Buku ini bukan hanya mengekspos peran perempuan dalam dunia laki-laki tetapi juga pembahasan tentang takdir. Meski tidak secara eksplisit, tetapi dalam bait-baitnya Sapardi seolah menggugat peran “takdir” dalam kehidupan manusia. Ia menuliskan dialog-dialog tentang perhelatan hidup yang menyiratkan seolah takdir itu mutlak dan tidak memberi ruang pada manusia untuk memilih jalannya sendiri.
Sita digambarkan sebagai sosok yang sadar bahwa hidupnya hanyalah sebuah “lakon” yang sudah diatur oleh Ki Dalang atau kitab. Ia mempertanyakan mengapa ia terus menerus mengikuti nasib yang penuh penderitaan dan pengasingan demi sebuah kebenaran bagi orang lain.
Dalam pengetahuanku, takdir dalam hal ini terbagi menjadi 2 hal: qada’ dan qadar. Ada takdir yang memang sudah tidak bisa diubah dengan usaha (ikhtiar), yang dikenal dengan istilah takdir mubram. Ada juga takdir yang bisa diubah sesuai dengan usaha yang telah dilakukan oleh manusia, yang sering disebut dengan takdir muallaq.
Takdir Mubram mengajarkan pada kita agar tidak merasa sombong dengan apa yang kita miliki dan tidak pula merasa putus asa apabila diterpa duka cita atau kegagalan, karena segala sesuatu terjadi atas izinNya. Sementara takdir muallaq seperti yang tertera dalam QS. Ar Rad [13] ayat 11 mengajarkan kita bahwa ketetapan Allah SWT itu berjalan seiring dengan sebab-akibat dan pilihan manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.Ar-Ra‘d [13]:11
Terkadang kita terjebak dengan namanya “takdir” sehingga tidak mau berusaha untuk mengubahnya. Padahal Allah SWT pernah berfirman dalam QS. An Najm ayat 39 bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:...bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,An-Najm [53]:39
Ayat ini mengingatkan pentingnya usaha untuk bisa mencapai sesuatu atau terlepas dari sesuatu. Misalnya saja ingin terlepas dari penderitaan dan kekacauan. Kadang kita perlu serangkaian usaha yang berbeda-beda agar terlepas dari rasa itu. Terutama belajar memahami cara berpikir kita. Dengan memiliki keyakinan seperti ini, kita jadi tidak mudah menyalahkan keadaan atau takdir.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran.Al-Qamar [54]:49
Kita gunakan QS. Ar Rad 11 untuk motivasi dan berusaha. Sedangkan QS. Al Qamar 49 dan Al Hadid ayat 29 sebagai refleksi dan pedoman untuk menerima takdir mubram. Dengan begitu kita tidak meremehkan usaha, sekaligus tidak merasa bangga dengan usaha dan kemampuan yang kita miliki. Di poin inilah kita diajarkan tentang ikhtar dan ridho.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah dan bahwa karunia itu ada di tangan Allah. Dia menganugerahkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Pemilik karunia yang agung.Al-Ḥadīd [57]:29
Wanita Mulia
Membaca buku ini membuat saya berhenti sejenak, lalu menengok ke pengalaman yang selama ini saya simpan sebagai bagian dari hidup yang “harus diterima”. Kisah Sita tidak berdiri jauh dari realitas perempuan hari ini.
Ia justru membuka lapisan-lapisan sunyi tentang bagaimana perempuan kerap direduksi menjadi objek, bukan subjek yang memiliki kehendak dan martabat. Dari titik inilah refleksi saya bergerak, dari teks sastra menuju pengalaman personal, lalu ke pertanyaan yang lebih dalam tentang nilai, kuasa, dan kemanusiaan.
Dalam filsafat, khususnya pemikiran eksistensial, manusia dipandang sebagai subjek yang memiliki kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas hidupnya. Ketika perempuan dipaksa memenuhi ekspektasi—baik atas nama keluarga, budaya, maupun “demi kebaikan”—kebebasan itu tereduksi.
Psikologi melihat dampaknya secara nyata: pemaksaan relasi, termasuk perjodohan tanpa persetujuan, sering kali melahirkan trauma, kecemasan, dan konflik relasi jangka panjang. Yang ironis, luka ini kerap tidak dianggap, sementara penolakan anak justru dilabeli sebagai pembangkangan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:Bagaimana kamu akan mengambilnya (kembali), padahal kamu telah menggauli satu sama lain (sebagai suami istri) dan mereka pun (istri-istrimu) telah membuat perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) denganmu?An-Nisā' [4]:21
Di titik inilah Al-Qur’an memberi perspektif yang tegas namun manusiawi. Allah memuliakan perempuan sebagai amanah, bukan komoditas. Pernikahan sendiri diletakkan sebagai mitsaqan ghalizha—perjanjian yang kuat (QS. An-Nisa: 21), yang menuntut kerelaan, kesadaran, dan tanggung jawab, bukan sekadar pemenuhan tuntutan sosial. Ketika kehendak perempuan diabaikan, yang dilanggar bukan hanya etika relasi, tetapi juga prinsip keadilan yang menjadi ruh ajaran Islam.
Refleksi ini akhirnya membawa saya pada kesadaran yang lebih jujur: banyak penderitaan perempuan berakar dari lingkungan yang gagal memahami makna penjagaan dan pemuliaan. Ketika perempuan diperlakukan seperti barang yang harus “laku”, nilai diri pun perlahan terkikis.
Sastra, psikologi, dan wahyu bertemu pada satu pesan yang sama bahwa cinta tanpa penghargaan adalah bentuk kekerasan yang halus, dan keheningan yang terus dipelihara hanya akan melahirkan penderitaan yang panjang.
Dari sini, membaca Namaku Sita bukan lagi sekadar pengalaman sastra, melainkan panggilan untuk memulihkan cara kita memandang perempuan sebagai manusia yang utuh.
Surat Khusus Tentang Perempuan
Namaku Sita membuat saya melihat ulang banyak hal tentang posisi perempuan—bukan hanya dalam budaya, tetapi juga dalam cara kita memaknai ajaran agama. Di tengah realitas yang sering mereduksi perempuan menjadi objek, saya justru menemukan bahwa Tuhan sejak awal telah menegaskan kemuliaannya.
Surat An-Nisā’ dibuka dengan pengingat bahwa laki-laki dan perempuan berasal dari satu jiwa yang sama. Secara ontologis, tidak ada hierarki penciptaan. Perempuan tidak hadir sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian utuh dari kemanusiaan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa.150) Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.An-Nisā' [4]:19
Yang membuat saya terhenyak adalah kenyataan bahwa Allah sampai menurunkan satu surat khusus yang mengatur hak-hak perempuan. Dalam QS. An-Nisā’: 19, praktik memperlakukan perempuan sebagai warisan atau objek transaksi dilarang tegas. Pernikahan tidak boleh berdiri di atas paksaan. Secara filosofis, ini adalah pengakuan terhadap kebebasan moral perempuan sebagai subjek yang memiliki kehendak. Tuhan tidak pernah merestui relasi yang dibangun di atas perampasan suara.
Dari sisi psikologi, perlindungan ini sejalan dengan kebutuhan dasar manusia akan rasa aman dan penghargaan diri. Ketika perempuan dipaksa masuk ke dalam relasi tanpa kesiapan batin, yang rusak bukan hanya hubungan, tetapi juga identitasnya.
Surat An-Nisā’ justru menata relasi agar berlandaskan keadilan dan tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas sejati tidak bertentangan dengan kesehatan mental; keduanya sama-sama menuntut penghormatan terhadap martabat manusia.
Refleksi ini membuat saya berpikir: sering kali budaya lebih keras daripada wahyu. Kita menyalahkan agama atas praktik yang sebenarnya lahir dari ego dan tradisi yang tidak sehat. Padahal, Tuhan sendiri telah memuliakan perempuan melalui aturan yang melindungi, bukan mengekang.
Jika kita kembali pada ruh Surat An-Nisā’, kita akan melihat bahwa menjaga perempuan bukan soal mengontrol hidupnya, tetapi memastikan ia dihargai sebagai jiwa yang merdeka dan bernilai di hadapan-Nya.









0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏