Dulu, doa terasa seperti sesuatu yang jauh dari hidup saya. Lidah ini sulit sekali mengucapkan harapan ataupun pujian kepada Allah SWT. Bahkan ketika melihat orang lain membagikan doa mereka di media sosial, saya sering merespons dengan sinis. Dalam hati saya berpikir, “Allah kan tidak bermain sosial media.”
Namun setelah direnungkan kembali, saya sadar bahwa cara pandang seperti itu justru terlalu menyempitkan Kekuasaan-Nya. Saya lupa bahwa seluruh alam semesta berada dalam genggaman Allah, termasuk hal-hal kecil yang sering manusia anggap sepele.
Bukankah Allah Maha Mengetahui apa pun yang ada di bumi dan di langit? Sejak saat itu, cara saya memandang doa perlahan berubah. Bukan hanya tentang bagaimana manusia berdoa, tetapi juga tentang bagaimana saya sendiri memahami hubungan dengan Tuhan.
Kadang ketika hati sedang dilimpahi ketenangan setelah ibadah, kita merasa sangat dekat dengan Allah. Tapi manusia punya sifat mudah terbiasa. Sesuatu yang dulu terasa luar biasa, lama-lama dianggap biasa saja. Akhirnya kita mulai merasa ibadah “tidak lagi senikmat dulu”, padahal mungkin yang perlu diperbaiki bukan ibadahnya, melainkan kualitas hati dan kesadaran kita sendiri.
Saya jadi memahami bahwa kesadaran spiritual bukan tujuan akhir. Ia hanyalah pintu awal agar manusia mau memperbaiki hidupnya sedikit demi sedikit.
Hal ini juga saya rasakan dalam perjalanan memahami doa.
Biasanya ujian hadir bukan sekadar untuk menyulitkan hidup, tetapi memberi ruang agar kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah jalan yang sedang ditempuh sudah benar, atau ada sesuatu yang perlu dibenahi terlebih dahulu?
Saya pernah menghadapi masalah keluarga yang terasa sangat buntu. Salah satu anggota keluarga saya pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik. Namun kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Tanpa disadari, mereka justru terjebak dalam skenario human trafficking. Dari situlah kepanikan dimulai.
Pihak penyandera meminta uang, sementara saya bukan orang yang hidup berkecukupan. Di sisi lain, saya juga sadar bahwa memenuhi semua permintaan mereka belum tentu menyelesaikan keadaan. Komunikasi yang diberikan pun sangat terbatas. Yang lebih menyakitkan, keluarga saya sendiri belum sepenuhnya sadar bahwa mereka sedang dimanfaatkan.
Saat itu saya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi selain berdoa.
Masalahnya, saya tidak terbiasa meminta kepada Allah. Ketika mencoba berdoa, pikiran saya kosong. Tidak ada kalimat yang keluar. Rasanya seperti kehilangan bahasa untuk berbicara kepada Tuhan.
Akhirnya saya mulai menuliskan doa-doa saya di atas kertas. Karena terbiasa journaling, catatan itu perlahan berubah menjadi jurnal doa yang sampai sekarang masih saya simpan. Setelah sholat, saya membaca satu per satu isi doa tersebut dengan hati yang hancur dan penuh harap.
Dan perlahan, Allah membuka jalan.
Satu demi satu masalah mulai menemukan titik terang. Tak lama kemudian keluarga saya bisa pulang dengan selamat ke Indonesia. Kami dapat berkumpul kembali. Dari situ saya mulai benar-benar percaya bahwa doa selalu didengar. Hanya saja, jawaban Allah tidak selalu datang dengan cara dan waktu yang kita bayangkan.
Sejak saat itu, doa menjadi tempat pertama yang saya cari ketika hidup terasa berat.
METACOGNITIVE JOURNALING: APA YANG SEBENARNYA SAYA CARI SAAT BERDOA?
Semalam saya mendengarkan kajian Al Hikam dari Pak Faiz Fahruddin di MJS Channel tentang Al Warid, yaitu limpahan hidayah Allah yang bisa membangunkan kesadaran dan pengalaman spiritual seorang hamba. Namun ada satu poin yang sangat membekas di hati saya: jangan sampai kita hanya mengejar sensasi spiritualnya saja, lalu berhenti bertumbuh di sana.Kadang ketika hati sedang dilimpahi ketenangan setelah ibadah, kita merasa sangat dekat dengan Allah. Tapi manusia punya sifat mudah terbiasa. Sesuatu yang dulu terasa luar biasa, lama-lama dianggap biasa saja. Akhirnya kita mulai merasa ibadah “tidak lagi senikmat dulu”, padahal mungkin yang perlu diperbaiki bukan ibadahnya, melainkan kualitas hati dan kesadaran kita sendiri.
Saya jadi memahami bahwa kesadaran spiritual bukan tujuan akhir. Ia hanyalah pintu awal agar manusia mau memperbaiki hidupnya sedikit demi sedikit.
Hal ini juga saya rasakan dalam perjalanan memahami doa.
SOLUSI
Awalnya, saya berdoa hanya ketika membutuhkan solusi.Biasanya ujian hadir bukan sekadar untuk menyulitkan hidup, tetapi memberi ruang agar kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah jalan yang sedang ditempuh sudah benar, atau ada sesuatu yang perlu dibenahi terlebih dahulu?
Saya pernah menghadapi masalah keluarga yang terasa sangat buntu. Salah satu anggota keluarga saya pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik. Namun kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Tanpa disadari, mereka justru terjebak dalam skenario human trafficking. Dari situlah kepanikan dimulai.
Pihak penyandera meminta uang, sementara saya bukan orang yang hidup berkecukupan. Di sisi lain, saya juga sadar bahwa memenuhi semua permintaan mereka belum tentu menyelesaikan keadaan. Komunikasi yang diberikan pun sangat terbatas. Yang lebih menyakitkan, keluarga saya sendiri belum sepenuhnya sadar bahwa mereka sedang dimanfaatkan.
Saat itu saya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi selain berdoa.
Masalahnya, saya tidak terbiasa meminta kepada Allah. Ketika mencoba berdoa, pikiran saya kosong. Tidak ada kalimat yang keluar. Rasanya seperti kehilangan bahasa untuk berbicara kepada Tuhan.
Akhirnya saya mulai menuliskan doa-doa saya di atas kertas. Karena terbiasa journaling, catatan itu perlahan berubah menjadi jurnal doa yang sampai sekarang masih saya simpan. Setelah sholat, saya membaca satu per satu isi doa tersebut dengan hati yang hancur dan penuh harap.
Dan perlahan, Allah membuka jalan.
Satu demi satu masalah mulai menemukan titik terang. Tak lama kemudian keluarga saya bisa pulang dengan selamat ke Indonesia. Kami dapat berkumpul kembali. Dari situ saya mulai benar-benar percaya bahwa doa selalu didengar. Hanya saja, jawaban Allah tidak selalu datang dengan cara dan waktu yang kita bayangkan.
Sejak saat itu, doa menjadi tempat pertama yang saya cari ketika hidup terasa berat.
KETENANGAN
Bersamaan dengan hadirnya solusi, saya juga mulai merasakan hal lain: ketenangan.Manusia memang cenderung merasa tenang ketika masalah hidupnya mereda. Tetapi justru di fase inilah saya mulai bertanya pada diri sendiri: kenapa saya hanya datang kepada Allah saat hidup terasa sulit?
Lalu bagaimana ketika keadaan sedang baik-baik saja?
Apakah saya tetap mengingat-Nya, atau justru sibuk dengan dunia dan segala isinya?
Pertanyaan itu menumbuhkan rasa malu dalam diri saya.
Saya mulai sadar bahwa doa seharusnya tidak berhenti hanya sebagai alat mencari jalan keluar atau penenang hati. Solusi dan ketenangan mungkin adalah bagian dari warid yang Allah limpahkan, tetapi hubungan seorang hamba dengan Tuhannya seharusnya terus bertumbuh melampaui itu.
Di titik itulah saya mulai memahami bahwa doa bukan hanya tentang kebutuhan hidup, melainkan tentang kedekatan.
KEDEKATAN
Fase ini mempertemukan saya dengan istilah munajat atau munajah. Saya pertama kali mengenalnya dari kajian Yaqeen Institute for Islamic Research dalam program Ramadan Quran 30 for 30 beberapa tahun lalu.Munajat adalah doa yang dipanjatkan dengan sangat personal—seolah seorang hamba sedang berbicara empat mata dengan Rabb-nya. Bukan sekadar meminta, tetapi juga mencurahkan isi hati, mengakui kelemahan diri, memohon ampunan, bahkan menyampaikan rasa rindu dan syukur.
Secara bahasa, munajah berarti percakapan rahasia atau bisikan hati kepada Tuhan. Karena itu, nuansanya terasa jauh lebih intim dibanding doa yang biasa kita panjatkan sehari-hari.
Di sinilah saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak saya sadari: terkadang kita berbicara bukan untuk mencari solusi.
Kadang manusia hanya ingin didengar.
Ada luka yang memang tidak bisa diselesaikan dengan jawaban instan. Ada kecewa yang tidak membutuhkan nasihat. Ada rindu, kehilangan, penyesalan, atau patah hati yang hanya ingin diletakkan pelan-pelan di hadapan Allah.
Dan ternyata, doa bisa menjadi ruang untuk itu.
Bukan hanya tempat meminta pertolongan, tetapi juga tempat pulang.
Sejak memahami hal ini, saya mulai melihat doa sebagai jembatan komunikasi dari hati ke hati dengan Allah SWT. Jadi ada masalah ataupun tidak, saya tetap ingin berbicara kepada-Nya. Bukan semata agar hidup dimudahkan, tetapi agar hati ini tetap terhubung dengan sumber ketenangan yang sebenarnya.
Dari perjalanan memahami doa ini, saya belajar bahwa proses review diri, muhasabah, tafakur, ataupun journaling sangat penting untuk terus dilakukan. Karena tanpa disadari, manusia mudah berhenti di satu fase kenyamanan. Padahal kehidupan rohani juga perlu terus bertumbuh, setahap demi setahap, menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri dan tentang Allah.








0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏