Kalian pernah nggak sih mengalami fase di mana sudah journaling, tapi pikiran tetap penuh?
Saya pernah. Bahkan cukup lama. Saya menulis hampir setiap hari, berharap ada rasa lega setelahnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—pikiran saya tetap berisik, bahkan kadang terasa lebih jelas dan semakin nyata.
SAYA MELAKUKAN JOURNALING, TAPI KOK TETAP OVERTHINKING?
Di titik itu, saya mulai sadar bahwa menulis saja ternyata tidak otomatis menyembuhkan. Dalam psikologi, ada istilah rumination, yaitu kecenderungan untuk memikirkan hal yang sama secara berulang tanpa menemukan solusi. Dan tanpa sadar, journaling saya waktu itu bukan melepaskan pikiran… tapi memperpanjang rumination itu sendiri.
Saya pikir saya sedang “mengurai,” padahal sebenarnya saya hanya “mengulang.” Saya menuliskan kecemasan yang sama, ketakutan yang sama, tanpa arah. Dan di situlah saya mulai bertanya: mungkin ada yang salah bukan pada saya, tapi pada cara saya memahami journaling itu sendiri.
Journaling Tanpa Tujuan Hanya Jadi Wadah Emosional
Saya kemudian menyadari satu hal yang cukup sederhana, tapi sering terlewat:
Saya menulis tanpa tahu tujuan saya menulis.
Journaling saya waktu itu hanya menjadi wadah emosional. Saya menampung semua rasa—sedih, cemas, takut—tapi tidak pernah benar-benar mengolahnya. Dalam perspektif filsafat, ini seperti saya hanya berhenti di tahap “mengalami,” tapi belum sampai ke tahap “memaknai.”
Padahal kalau dipikir-pikir, manusia bukan hanya makhluk yang merasakan, tapi juga makhluk yang mencari makna. Ketika saya hanya menulis tanpa refleksi, saya kehilangan satu bagian penting dari proses itu—yaitu memahami kenapa saya merasa seperti itu, dan apa yang bisa saya pelajari darinya.
Dari sudut pandang Islam, saya jadi teringat bahwa hati dan akal itu tidak dibiarkan berjalan sendiri-sendiri. Ada konsep tadabbur—merenungkan, menghayati, dan mengambil pelajaran. Dan ternyata, journaling tanpa refleksi itu seperti membaca tanpa tadabbur: ada aktivitasnya, tapi belum tentu sampai ke pemahaman.
Saya Belajar Bahwa “Assessment” Itu Kunci yang Selama Ini Hilang
Salah satu hal yang paling sering saya abaikan adalah review dan assessment terhadap apa yang saya tulis.
Saya biasanya berhenti setelah “curhat.” Padahal justru di situlah proses penting seharusnya dimulai. Dalam psikologi, ada pendekatan seperti cognitive restructuring—di mana kita tidak hanya menyadari pikiran, tapi juga mengevaluasi dan menantangnya. Dan saya sama sekali tidak melakukan itu waktu itu.
Pelan-pelan saya mulai belajar untuk membaca ulang tulisan saya, lalu bertanya:
- “Apakah ini fakta atau hanya asumsi saya?”
- “Apakah saya terlalu keras pada diri sendiri?”
- “Apa pola yang terus berulang?”
Menariknya, di titik ini saya merasa lebih dekat dengan diri saya sendiri. Dalam Islam, ada konsep muhasabah—mengoreksi diri dengan jujur. Dan ternyata, assessment dalam journaling itu mirip seperti muhasabah versi personal. Bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk melihat dengan lebih jernih apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri saya.
Bagian yang Paling Menentukan
Saya dulu berpikir bahwa memahami diri sudah cukup.
Ternyata belum.
Langkah yang paling berat, tapi paling penting adalah: mengambil keputusan dan action. Karena tanpa itu, semua refleksi hanya akan berhenti sebagai kesadaran… tanpa perubahan.
Saya mulai mencoba hal kecil. Dari satu insight, saya tanya ke diri saya:
“Jadi, saya mau melakukan apa setelah ini?”
Tidak harus besar. Kadang hanya sesederhana mengubah cara saya merespon, atau memberi batas pada sesuatu yang membuat saya lelah.
Dalam perspektif Islam, ilmu selalu diikuti dengan amal. Tidak cukup hanya tahu, tapi harus ada tindakan. Dan di situlah saya merasa journaling mulai benar-benar bekerja—bukan hanya membuka isi hati, tapi juga mengarahkan langkah saya.
Sekarang saya masih journaling. Saya masih overthinking juga, kadang.
Tapi bedanya, sekarang saya tidak berhenti di tulisan.
Saya belajar memahami, menilai, lalu bergerak.
Dan mungkin…
di situlah journaling akhirnya menjadi alat, bukan sekadar tempat pelarian.







0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏