KENAPA SAYA SUKA BELAJAR DARI YAQUEEN INSTITUTE?

KENAPA SAYA SUKA BELAJAR DARI YAQUEEN INSTITUTE?

Hai pencari cahaya! ✨🌝 

 اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ramadan kali ini agak berbeda buat saya. Biasanya saya membuat tadabbur digitalmenulis refleksi ayat demi ayat, merangkainya dengan ilustrasi, lalu membagikannya sebagai bagian dari perjalanan spiritual saya. Tapi tahun ini ritmenya sedikit berubah. Saya tidak membuat tadabbur digital seperti biasanya. Bukan karena berhenti belajar, justru sebaliknya. Ramadan kali ini saya banyak belajar, hanya saja bentuknya berbeda.

KENAPA SAYA SUKA BELAJAR DARI YAQUEEN INSTITUTE?

Belakangan ini saya sering mendengarkan kajian dari Yaqeen Institute for Islamic Research melalui program tahunan mereka, Ramadan Series. Tema yang dibahas tahun ini banyak berfokus pada Asmaul Husna, nama-nama indah Allah SWT.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sudah banyak sekali kajian tentang Asmaul Husna. Banyak ustaz, banyak majelis, bahkan buku-buku yang membahasnya. Tapi entah kenapa, ketika saya mendengarkan penjelasan dari Dr. Omar Suleiman dalam Ramadan Series ini, rasanya berbeda.

Cara Menjelaskan yang Membuat Kita Berhenti dan Merenung

Salah satu hal yang saya rasakan ketika mendengarkan kajian Dr. Omar adalah cara beliau menjelaskan sesuatu yang terasa sangat manusiawi. Tidak terasa seperti sedang “digurui”, tapi lebih seperti diajak melihat kembali hubungan kita dengan Allah.

Misalnya ketika membahas satu nama Allah, beliau tidak langsung masuk ke definisi teologis yang berat. Beliau sering memulai dari pengalaman manusia: rasa takut, rasa kehilangan, rasa berharap, atau perasaan tidak cukup baik sebagai hamba. Dari situ baru pelan-pelan kita diajak memahami bagaimana nama Allah itu sebenarnya hadir untuk menjawab kegelisahan manusia.

Jadi bukan sekadar “ini arti nama Allah”, tapi lebih ke:
“Apa makna nama ini dalam hidup kita sehari-hari?”

Buat saya pribadi, pendekatan seperti ini membuat Asmaul Husna terasa lebih hidup.

Tidak Hanya Ilmu, Tapi Juga Refleksi

Hal lain yang saya suka adalah cara beliau selalu membawa pembahasan kembali ke refleksi diri.

Setiap nama Allah tidak berhenti di penjelasan, tapi selalu berakhir dengan pertanyaan yang diam-diam membuat kita berpikir:

Bagaimana hubungan saya dengan Allah selama ini?
Apakah saya benar-benar mengenal-Nya, atau hanya tahu nama-Nya saja?

Kadang setelah satu episode selesai, saya malah jadi diam beberapa menit. Bukan karena tidak paham, tapi karena terasa seperti ada ruang refleksi yang terbuka.

Dan menurut saya, itu yang membuat kajiannya terasa “mengena”.

Ilmu yang Terasa Dekat dengan Kehidupan

Hal yang juga saya perhatikan dari kajian-kajian di Yaqeen adalah cara mereka menjembatani ilmu klasik dengan kehidupan modern. 

Banyak referensi dari ulama klasik, ayat Al-Qur'an, dan hadits, tapi cara penyampaiannya tetap terasa relevan dengan kehidupan kita sekarang.

Tidak terasa seperti pelajaran sejarah.
Lebih terasa seperti peta untuk memahami diri sendiri sebagai hamba.

Itulah kenapa meskipun Ramadan kali ini saya tidak membuat tadabbur digital seperti biasanya, saya tetap merasa perjalanan belajar saya tetap berjalan. Hanya saja kali ini saya lebih banyak menjadi pendengar.

Dan dari pengalaman mendengarkan Ramadan Series ini, saya jadi sadar satu hal:

Mengenal Allah lewat Asmaul Husna ternyata bukan hanya soal pengetahuan.
Tapi juga soal bagaimana hati kita perlahan belajar tentang Allah dalam setiap bagian hidup kita. 

Setidaknya salah satu tujuan kita di dunia ini tercapai, yakni Mengenal Allah SWT dengan segala Kebesaran-Nya. 


0 Komentar