بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Di awal tahun 2026 ini, saya membuka kembali aplikasi Al-Qur’an di ponsel — sekadar ingin melanjutkan bacaan terakhir yang sempat terhenti. Tanpa saya sangka, ayat yang muncul adalah Surah Ibrahim ayat 1. Rasanya seperti sedang dipertemukan ulang dengan sesuatu yang penting, sesuatu yang mungkin dulu saya baca sekilas, tetapi baru sekarang benar-benar mengetuk hati.
TADABBUR QURAN : IBRAHIM 1
Ternyata ayat ini berbicara tentang cahaya, tentang petunjuk, tentang bagaimana Allah menurunkan Al-Qur’an agar manusia keluar dari kegelapan hidupnya. Di momen pergantian tahun, ketika banyak orang menata rencana dan harapan baru, ayat ini justru mengingatkan saya pada hal yang lebih mendasar: bahwa langkah apa pun yang akan saya jalani, seharusnya bermula dari cahaya petunjuk Allah — bukan hanya dari keinginan dan perhitungan diri sendiri.Al-Qur’an: Cahaya yang Mengajak Keluar dari Kegelapan
Saat membaca ayat pertama dari Surah Ibrahim ini, saya merasa seperti sedang ditegur dengan lembut. Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Kegelapan itu bisa berupa kebingungan, kecemasan, kesombongan, rasa takut, bahkan kegelapan pikiran yang tanpa sadar kita pelihara.Di banyak momen, saya mendapati diri masih lebih percaya pada rencana dan kekuatan diri sendiri. Seolah selama saya cukup kuat, semuanya akan baik-baik saja. Tapi ayat ini mengingatkan: cahaya sejati bukan datang dari ego dan logika saya, ia datang dari petunjuk Allah.
Di awal tahun ini, ayat tersebut terasa seperti pelukan. Saya tidak benar-benar sendirian. Ada kalam Allah yang menenangkan, menunjukkan arah, dan siap membimbing — selama saya mau kembali membuka dan merenungkannya.
Tafsir Surah Ibrahim Ayat 1: Dari Kegelapan Menuju Jalan Allah
Dalam Tafsir Ringkas Kemenag dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kemusyrikan menuju cahaya tauhid. Seolah Allah menegaskan: hidup bukan hanya tentang berjalan, tetapi tentang ke arah mana kita berjalan.Sementara Tafsir Tahlili menggambarkan Al-Qur’an sebagai bimbingan agar manusia keluar dari kesesatan, kebodohan, dan kejahilan menuju kehidupan yang berilmu, beradab, dan diridai Allah — di dunia maupun akhirat. Di sini saya merasa tersentuh: ternyata perubahan hidup tidak dimulai dari ambisi menjadi hebat, tetapi dari kesiapan untuk dituntun.
Dan semuanya terjadi bi idzni rabbihim — dengan izin Allah. Bahkan Rasulullah ﷺ pun dikuatkan, dimudahkan, dan ditopang oleh-Nya. Kalimat ini menenangkan: ketika saya lelah atau bingung, mungkin bukan karena hidup gelap, mungkin hanya karena saya lupa kembali kepada cahaya Al-Qur’an.
Menghadapi Dunia: Antara Usaha dan Tawakal
Ayat ini membuat saya belajar bahwa percaya diri itu penting, tetapi ia tidak boleh berdiri sendiri. Percaya diri tanpa tawakal hanya melahirkan letih dan kecewa.Al-Qur’an tidak datang untuk mematikan usaha kita. Ia datang untuk meluruskan arah usaha, agar tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga mendekatkan diri pada Allah. Saat Allah menyebut “mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya”, itu berarti setiap langkah seharusnya diarahkan ke jalan-Nya.
Saya pun mulai bertanya: sudahkah keputusan-keputusan saya diterangi oleh Al-Qur’an? Atau saya baru mencarinya ketika terdesak? Pertanyaan ini membuat saya ingin belajar melangkah lebih pelan — membaca, merenung, lalu bergerak.
Sejujurnya, dunia ini memang sangat menggoda. Terkadang lewat reward-reward yang ditawarkan. Ada pula yang datang dari gunjingan yang bikin hati ini menjadi sakit, atau dari promosi-promosi manusia yang cinta dunia.
Sebagai manusia yang lemah, seringkali diri ini tergelincir dan terprovokasi untuk tampil memikat "dunia", namun Allah SWT selalu melindungi dengan cara-cara yang jiwa ini bisa memahaminya, Alhamdulilllah.
Dalam kondisi seperti itu, ayat ini turun untuk menegaskan misi besar Al-Qur’an: membebaskan manusia dari kegelapan kesyirikan dan kezaliman menuju cahaya tauhid. Ayat ini juga menjadi penghibur untuk Nabi Muhammad ﷺ, bahwa tugas beliau tidak sendirian — semuanya berada dalam izin dan penjagaan Allah.
Saat mengetahui konteks ini, hati saya ikut merasa dikuatkan. Jika para sahabat menemukan keteguhan dari ayat ini, saya pun berharap bisa menemukan kekuatan yang sama dalam menghadapi keresahan hidup hari ini.
Membawanya dalam hidup berarti belajar perlahan membaca dengan hati, mencari makna, menghubungkannya dengan pengalaman, lalu mempraktikkannya sedikit demi sedikit. Tidak perlu langsung sempurna; yang penting tetap kembali.
Awal tahun ini, saya ingin menjadikan ayat ini sebagai kompas. Apa pun yang saya jalani, tujuannya adalah menuju ṣirāṭ al-‘azīz al-ḥamīd — jalan Tuhan Yang Mahaperkasa dan Maha Terpuji. Dan di jalan itu, saya tidak pernah berjalan sendirian.
Sejarah Turunnya: Peneguh Hati di Tengah Tekanan
Surah Ibrahim termasuk surah Makkiyah — diturunkan saat umat Islam mengalami tekanan berat di Makkah. Mereka dicemooh, dihalangi, bahkan diancam.Dalam kondisi seperti itu, ayat ini turun untuk menegaskan misi besar Al-Qur’an: membebaskan manusia dari kegelapan kesyirikan dan kezaliman menuju cahaya tauhid. Ayat ini juga menjadi penghibur untuk Nabi Muhammad ﷺ, bahwa tugas beliau tidak sendirian — semuanya berada dalam izin dan penjagaan Allah.
Saat mengetahui konteks ini, hati saya ikut merasa dikuatkan. Jika para sahabat menemukan keteguhan dari ayat ini, saya pun berharap bisa menemukan kekuatan yang sama dalam menghadapi keresahan hidup hari ini.
Menjadikan Al-Qur’an Teman Perjalanan
Di titik ini saya sadar: Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan dalam keseharian. Ia menyinari cara saya melihat masalah, mencintai, bekerja, memilih, dan menghadapi duka.Membawanya dalam hidup berarti belajar perlahan membaca dengan hati, mencari makna, menghubungkannya dengan pengalaman, lalu mempraktikkannya sedikit demi sedikit. Tidak perlu langsung sempurna; yang penting tetap kembali.
Awal tahun ini, saya ingin menjadikan ayat ini sebagai kompas. Apa pun yang saya jalani, tujuannya adalah menuju ṣirāṭ al-‘azīz al-ḥamīd — jalan Tuhan Yang Mahaperkasa dan Maha Terpuji. Dan di jalan itu, saya tidak pernah berjalan sendirian.
Dari surat ini saya belajar bahwa hidup bukan sekadar bergerak maju, tetapi memastikan ke mana arah langkah itu ditujukan. Al-Qur’an hadir sebagai cahaya — bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk membimbing, menenangkan, dan mengeluarkan saya dari kegelapan cara berpikir yang terkadang terlalu bergantung pada diri sendiri. Saya belajar bahwa setiap perjalanan akan terasa lebih ringan ketika dimulai dengan petunjuk Allah, bukan semata-mata keinginan pribadi.
Saya juga belajar bahwa perubahan selalu berlangsung dengan izin Allah. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ pun ditopang oleh kekuatan dan penjagaan-Nya. Maka, di awal tahun ini, saya ingin melangkah dengan lebih sadar: berusaha sebaik mungkin, namun tetap bersandar pada Al-Qur’an sebagai kompas yang mengarahkan hati — menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa dan Maha Terpuji.







0 Komentar
Hi Gaes.. Jika kalian tak menemukan kolom komentar, mohon untuk mencari artikel yang ingin dikomentari melalui Home , atau pilih label, kemudian klik " Link Komentar " , yang berwarna salmon (peach pastel). Akan muncul kolom komentar baru. Mohon maaf ketidaknyamanannya.. 🙏