MENULIS ADALAH CONTOH PSIKODRAMA YANG MUDAH DILAKUKAN SENDIRI

MENULIS ADALAH PSIKODRAMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Hai pencari cahaya! ✨🌝 

 بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Saya pertama kali mengenal istilah psikodrama bukan dari buku teks psikologi atau ruang terapi, melainkan dari sebuah bacaan yang terasa sangat personal: I Want to Die But I Want to Eat Tteokbokki 2. Di salah satu bagiannya, Baek Se-Hee menyinggung bagaimana ia berbicara pada dirinya sendiri secara langsung, bukan hanya di dalam hati. 

Cara sederhana itu justru memantik rasa ingin tahu saya—mengapa berbicara pada diri sendiri bisa terasa menenangkan, dan mengapa kata-kata yang diucapkan atau dituliskan sering kali terasa lebih jujur dibandingkan yang hanya dipikirkan.

MENULIS ADALAH CONTOH PSIKODRAMA YANG MUDAH DILAKUKAN SENDIRI

Rasa penasaran itu membuat saya berhenti sejenak dari sekadar membaca, lalu mulai mencatat. Catatan digital ini lahir bukan sebagai tulisan ilmiah, melainkan sebagai ruang untuk memahami: apa sebenarnya psikodrama, dan bagaimana praktiknya hadir dalam keseharian saya tanpa saya sadari. Dari membaca, merenung, hingga menulis, saya menyadari bahwa tulisan bisa menjadi medium dialog batin—tempat saya berbicara pada diri sendiri dengan lebih sadar, pelan, dan jujur.

Ketika Pikiran Perlu Dikeluarkan dari Kepala

review buku I want to die but i want to eat ttoekpokki 2


Ada saat-saat ketika pikiran terasa begitu riuh, namun semuanya hanya berputar di dalam kepala. Kita berpikir, menganalisis, mengulang kejadian, tapi justru semakin lelah. Dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan karena kita kurang berpikir, melainkan karena pikiran tidak pernah benar-benar “keluar” untuk diproses dengan sadar.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai rumination, yaitu kecenderungan mengunyah pikiran yang sama berulang kali tanpa solusi. Menulis menjadi salah satu cara paling sederhana untuk menghentikan siklus ini. Dengan menuliskannya, kita memindahkan beban mental ke ruang yang bisa dilihat, dibaca, dan direnungkan kembali dengan jarak yang lebih sehat.

Dari sudut pandang filsafat, menulis adalah bentuk kehidupan yang diperiksa (the examined life). Ia membantu kita tidak sekadar bereaksi, tetapi memahami. Secara spiritual, proses ini menyerupai muhasabah—berhenti sejenak untuk menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri, tanpa menghakimi atau menghindarinya.

Psikodrama: Terapi yang Mengajak Diri untuk Bicara

Psikodrama adalah metode terapi yang dikembangkan oleh Jacob L. Moreno, di mana seseorang mengekspresikan konflik batinnya melalui peran, dialog, dan tindakan simbolik. Tujuannya bukan untuk berpura-pura, melainkan untuk menghadirkan konflik yang selama ini tersembunyi agar bisa dipahami dan diolah dengan lebih sadar.

Dalam praktik klasik, psikodrama dilakukan di ruang terapi dengan suara dan tubuh. Namun esensinya tetap sama: mengeksternalisasi emosi agar tidak hanya berputar di dalam kepala. Di sinilah menulis menemukan relevansinya. Ketika kita menulis dialog batin, monolog, atau surat untuk diri sendiri, kita sebenarnya sedang melakukan psikodrama dalam bentuk yang lebih sunyi.

Secara ilmiah, proses ini membantu otak menghubungkan emosi dengan bahasa dan makna. Area korteks prefrontal yang bertugas mengatur emosi ikut aktif, sehingga perasaan tidak lagi menguasai sepenuhnya, tetapi bisa diajak berdialog. Menulis, dalam konteks ini, menjadi panggung kecil tempat jiwa bisa bicara dengan jujur.

Menulis sebagai Self Talk yang Disadari

Bagi sebagian orang, self talk dilakukan dengan suara keras. Bagi yang lain, seperti saya, ia hadir dalam bentuk dialog di dalam pikiran atau tulisan. Ketika saya menulis, saya sedang mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, mendengarkan jawabannya, lalu meresponsnya kembali dengan sudut pandang yang lebih tenang.

Tulisan memberi ruang untuk berpikir tanpa tergesa-gesa. Ia memungkinkan kita memerankan dua sisi sekaligus: diri yang terluka dan diri yang berusaha memahami. Dalam psikologi, ini disebut sebagai metacognitionkemampuan untuk menyadari dan memahami proses berpikir kita sendiri. Kesadaran inilah yang sering menjadi kunci munculnya perspektif baru.

Dari sisi spiritual, menulis membantu kita hadir sepenuhnya. Kita tidak melarikan diri dari rasa sakit, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Sains pun mendukung hal ini: expressive writing terbukti membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kejernihan emosi. Menulis bukan sekadar curhat, tetapi bentuk perawatan batin yang sadar.

Psikodrama Sunyi sebagai Jalan Pemahaman Diri

resensi buku I want to die but i want to eat ttoekpokki 2

Tidak semua orang membutuhkan panggung untuk menyembuhkan dirinya. Ada yang cukup dengan selembar kertas, layar kosong, dan kejujuran pada diri sendiri. Menulis sebagai psikodrama sunyi memungkinkan kita berproses tanpa tekanan, tanpa tatapan orang lain, dan tanpa keharusan untuk segera sembuh.

Dalam filsafat hidup, ini adalah bentuk keberanian eksistensial: berani duduk bersama pikiran sendiri. Dalam spiritualitas, ia menjadi latihan kehadiran dan kejujuran batin. Sementara dalam sains, proses ini membantu integrasi emosi dan kognisi agar manusia bisa merespons hidup dengan lebih sehat.

Pada akhirnya, catatan digital ini menjadi lebih dari sekadar respons atas sebuah buku. Ia berubah menjadi ruang dialog—antara bacaan dan pengalaman, antara teori dan praktik, antara Se-Hee dan diri saya sendiri. 

Dari rasa penasaran pada psikodrama, saya justru menemukan bahwa selama ini saya telah mempraktikkannya lewat cara yang paling dekat dengan diri saya: berpikir, menulis, dan berbicara jujur pada diri sendiri. 

Tanpa panggung, tanpa peran formal, hanya kesadaran yang pelan-pelan dibangun. Mungkin, penyembuhan memang tidak selalu datang dalam bentuk jawaban besar. Kadang ia hadir sebagai keberanian sederhana untuk duduk, menulis, dan mendengarkan suara batin sendiri—dengan lebih lembut, lebih sadar, dan lebih manusiawi.


0 Komentar