GOD DOES EXIST

by - November 16, 2020

GOD DOES EXIST



[ewafebri.com] | GOD DOES EXIST.

Hal yang ingin saya pertahankan sampai akhir hayat adalah iman yang meyakini bahwa Tuhan itu ada. Meskipun saya sempat terpeleset jauh ke belantara antah berantah, tapi saya selalu bahagia kembali ke pola pikir fundamental bahwa Tuhan itu selalu ada. 

GOD DOES EXIST


Perjalanan spiritual saya itu seperti roller coaster. Pada suatu hari pernah jiwa saya nyasar entah kemana, tapi kepercayaan bahwa Tuhan itu ada selalu tetap saya pegang. Terlahir dalam keluarga dengan agama minoritas di negeri ini membuat saya tumbuh menjadi orang yang bisa bertoleransi dengan baik. 

Saya beruntung dilahirkan dalam keluarga heterogen, sehingga saya bisa belajar banyak tentang makna keyakinan dalam kehidupan. Pernah suatu masa, saat saya masih hobi nyinyir dan cari perhatian di sosial media (tepatnya twitter), berargumentasi tentang ada tidaknya Tuhan dengan seseorang yang menyebut dirinya seorang Atheis

Saat tidak mempermaslahkan tentang hal tersebut, tapi ketika dia bertanya tentang , " apakah Tuhan itu ada ?". Saya merasa memiliki jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan. Terlebih saya adalah penganut, "Tuhan itu ada", tentu harus punya jawabannya iya kan ? hahaha.. 

KEYAKINAN 


Saat itulah saya menjawab pada orang tersebut bahwa, " Tuhan itu memang benaran ada !", Lalu dia bertanya, "Kalo ada, memang di mana dia sekarang ? coba buktikan !". 

" Keyakinan ! Tuhan itu ada dalam keyakinan !", itu jawaban saya. 

"Lah... maksudnya bagaimana ? ", pungkasnya dengan sinis. 

"Pertama, kamu punya merasa yakin apa tidak ? Kalo kamu saja gak yakin Tuhan itu ada, percuma saya jelasin juga !", jawab saya dengan cengengesan. 

Hihihi... Setelah itu dia membahas panjang lebar tentang sudut pandangnya dalam bentuk no mention. Hehehe.. 

Gak mau mention saya lagi ya gpp. hahaha.. !

Sulit buat kita untuk meyakinkan kepada seseorang tentang sesuatu yang kita yakini di saat mereka dari awal memang sudah tidak memiliki keyakinan tersebut. Itu juga yang menjadikan salah satu cara saya untuk menghadapi sebuah argumentasi yang berakhir dengan debat kusir. Apalagi kita berdua masing-masing keukeuh sama sudut pandang masing-masing kan ya ? Buang-buang waktu aja berdebatnya. Hahaha.. Karena pada gak mau ngalah. Hahahah.. 

Hal lain yang paling saya takutkan adalah, di akhir hayat nanti, jika setiap hal di dunia ini berubah, satu hal yang ingin tetap saya pertahankan adalah Iman saya pada Tuhan. Dengan iman tersebut setidaknya saya jadi ingat untuk memperbaiki diri dan beribadah kepadaNya. Apapun bentuk ajaran agamanya. 

NO DEBAT 


Belakangan ini saya adalah orang yang lebih memilih diam jika perdebatan itu udah mulai agak ngeyel atau menuju ke debat kusir. Ya kan percuma juga, toh pada akhirnya kita kembali pada apa yang kita yakini masing-masing. Yekan ? 

Pun saya menghargai setiap perbedaan yang diyakini dan dijalani oleh orang lain. Termasuk perihal atheis tersebut. Apa yang mereka tahu dan yakini, itulah yang diterapkan pada hidupnya masing-masing. Jadi ya gak masalah. 

Yang membuat males itu sebenarnya setelahnya ada lagi debat berjilid-jilid dengan tema dan topik yang itu-itu lagi dan kesimpulan yang itu-itu juga. Kayak lelah gak sih gaes dengan hal kayak gini ? belum lagi dengan drama yang itu-itu juga. Hadeeh.. 

Untuk kembali mood dan produktif, biasanya saya akan melakukan sosial media detox sementara waktu. Apalagi kalo ada komitmen menyelesaikan project berbayar yang sudah disepakati, yekan ? Mendingan fokus manyelesaikan pripritas dulu aja deh, tanggung jawabnya ada.  Atau punya waktu rileks sebentar mendingan cari suasana baru dan ide kretif baru supaya pikiran saya gak jadi toxic dan anxiety.

Ya.. walaupun kadang masih aja ada orang-orang yang menyindir saya seolah baper.. Hihihi.. Ah sudahlah.. Gak penting juga kalo diladenin.Yang ada fokus kerjaan saya jadi malah terbengkalai ke mana tahu. 

KESADARAN


Pengalaman ini juga pernah saya alami sendiri kok. Dahulu kala, ketika saya belum menggunakan kerudung, seringkali teman-teman yang lain menasehati ataupun sekedar bercanda bahwa kalo saya mengenakannya akan terlihat lebih cantik. Tapi saat itu saya mah berasa tutup kuping aja, dan berpikir " siapa kalian nyuruh-nyuruh saya ? ", hahaha... Padahal tujuan mereka baik banget. hihihi.. 

Hingga suatu hari sebuah peristiwa menggugah hati saya untuk berubah dan menjadi lebih baik lagi dari diri saya sebelumnya. Di saat itulah tanpa paksaan siapapun saya mengenakan kerudung. Alasannya ya tentu saja karena diri sendiri, bukan karena Si A, B, C dan lain2. Mungkin pula karena itu saya menjalaninya lebih tenang. 

Kesadaran sendiri itu penting untuk memupuk keyakinan kita. Jika kita tak memiliki kesadaran, rasanya akan sulit menerima informasi atau nasehat yang baik sekalipun. Kasian yang bilangin kita ampe berbusa kan ya ? hahaha.. 

KESIMPULAN


Pada intinya saya adalah orang yang tidak suka mendikte ataupun didikte dalam hal mengambil keputusan, terutama dalam hidup. Karena apapun yang kita jalani, pada akhirnya kita sendirilah yang harus bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut. 

Itu juga yang mungkin sering tersirat dalam tulisan-tulisan saya. Bahwa apa yang saya bagikan biasanya sesuai dengan "pengalaman saya". Bukan saya sebagai ahlinya. hahaha.. Jadi perkara kalian mengikuti atau tidak ya bebas saja.  

Apabila kalian merasa apa yang saya tulis bermanfaat dan berguna, silakan diterapkan. Tapi jika terdengar Cringe dan gak masuk akal, ya sudah cuekin aja, hihihi.. daripada kalian menyesal kemudian. 

Nah kalo kalian, hal apa yang ingin kalian pertahankan hingga akhir hayat ? Apa alasannya ? yuk share di kolom komentar. hehe.. 

You May Also Like

0 comments

OTHER ARTICLES :