Tuesday, November 21, 2017

BULLET JOURNAL : PLANNER PEACE

Is this really my planner peace ?

What is planner peace ?

How to find out ?

Pertanyaan ini sering muncul dibenak saya setelah tanpa sengaja saya membaca sebuah artikel tentang "Planner Peace".

Sebelum kita beranjak kepada kesimpulan bahwa ini adalah "planner peace saya", mari kita mengenal terlebih dahulu, apa itu planner peace.. ?

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi (hmm.. Lebih tepatnya mencari informasi 😂) tentang istilah planner peace di dunia planologi terutama di kawasan nusantara.
Adalah sebuah komunitas baru tentang dunia "perplanneran" di Indonesia yang terdapat pada aplikasi Line Square
yang diberi nama planner and journal. Wadah yang disediakan untuk membahas segala hal yang berkaitan dengan dunia perplanneran di Indonesia.
Bahasannya pun beraneka ragam, tentang metode produktifitas, review barang (essential tool) oleh para member, ide-ide layout atau bahkan jual beli yang juga harus dilakukan sesuai dengan aturan yang sudah dibuat komunitas tersebut.
Jika dibandingkan dengan komunitas di facebook, komunitas di line square bisa dibilang lebih simpel formatnya. Karena format yang digunakan semacam chatting pada umumnya (padahal sama aja sebenernya sama grup yang di facebook.. Hihi) tapi di line square lebih all in one. Pemisahnya adalah chatroom saja.
Karena berbasis form chatting, yang bikin kurang nyaman adalah.... Memori Handphone gampang penuh. Haha.. Jadi musti sering-sering di clear data.



Kembali ke topik planner peace. Hihi.. Suatu hari saya bertanya tentang planner peace kepada member komunitas. Adalah Kak Nella member aktif sekaligus admin line square tersebut yang bersedia membantu saya untuk menjelaskan apa itu planner peace.

Menurut kak nella, pada dasarnya tidak ada patokan khusus tentang definisi planner peace itu sendiri. Setiap orang memiliki definisi yang berbeda-beda tentang planner peace. Sama halnya dengan tidak adanya cara Benar atau Salah dalam berbullet journal, hal ini juga berlaku pada planner peace.

Setiap orang memiliki kriteria yang berbeda-beda tentang planner peace. Ada yang mengatakan bahwa planner peace mereka adalah brand planner yang selalu mereka gunakan berulang-ulang (setiap beli, brandnya itu-itu lagi), ada juga yang mengkategorikan bahwa planner peace mereka adalah dengan sistem planner yang sama berulang-ulang meskipun menggunakan tipe buku dan brand yang berbeda. Atau bahkan jenis buku plannernya discbound, planner ring (ring binder), traveler notebook, bahkan mungkin bentuk layoutnya yang itu-itu saja.
Dari informasi ini kemudian timbul rasa penasaran.

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi adanya istilah planner peace.. ?.

Dari beberapa sumber artikel yang saya baca tentang planner peace, planner peace ini mulai rame dibicarakan sekitar tahun 2013 dan seiring dengan berkembangnya produksi perplanneran dunia. 
Hanya saja, karena di Indonesia perkembangan dunia perplanneran tak semasif diluar negeri, istilah planner peace ini kurang begitu dikenal, kecuali anak-anak komunitas planner.
Ada begitu banyak macam pilihan planner. Dari mulai brand, jenis planner (traveler notebook, ring binder, discbound), aksesoris (termasuk washi tape, sticker), layout atau template, yang membuat beberapa kalangan member terpicu sifat konsumtifnya. Dan karena banyaknya design yang cantik, harga yang kompetitif, dan kebutuhan estetika penggunanya, membuat perkembangan dunia planner makin menjadi. Tak heran, jika kemudian ada member komunitas yang mungkin bisa mendesign stiker, atau layout melihat dan menggunakan peluang ini untuk menghasilkan pundi-pundi. Dan makin membuat marak pilihan yang sudah tersedia.
Toko online seperti etsy yang menyediakan banyak pilihan design dari produsen berbeda, juga menambah maraknya hiruk pikuk dunia planner.

Inilah yang kemudian melatarbelakangi munculnya istilah planner peace. Beberapa orang kemudian mencari solusi atau cara supaya "bagaimana mereka tidak terjerumus dalam lingkaran sifat konsumtif". Tidak dipungkiri, bagi orang-orang yang menyukai stationary, terkadang imannya mudah goyah kalo melihat pritilan-printilan lucu yang mungkin sebenarnya tidak terlalu penting. Tak jarang setelah membeli merasa menyesal. 😂😂😂 (yang ini pengalaman pribadi).
Nah, muncullah planner peace sebagai penanda bahwa mereka mengetahui apa yang mereka inginkan tanpa harus merogoh lebih banyak uang lagi.

Lalu bagaimana cara menemukan planner peace itu dalam diri kita.. ?

Jawaban dari pertanyaan ini relatif. Setiap orang memiliki cara dan kategori yang berbeda dalam menentukan planner peace. Ada yang mengkategorikan menurut sistemnya, brand planner, jenis planner atau tentang estetikanya.

Bagi saya sendiri, planner peace merupakan salah satu tujuan dari perjalanan saya berpetualang dalam dunia journaling. 
Ada beberapa kriteria yang saya gunakan dalam proses perjalanan itu.

1. Sistem.

Yang menjadi fokus utama saya dalam pencarian planner peace ini terletak pada sistemnya. Setelah beberapa kali mereview tentang perjalanan journaling saya, alasan utama saya bergonta-ganti cara adalah karena sistemnya.
Yang terakhir saya merasa bahwa Bullet Journal adalah my planner peace. Sifat fleksibelnya mampu mengakomodir rasa penasaran saya terhadap dunia planologi. Dan yang terpenting sistemnya sendiri sangat berguna dan sangat membantu bagi saya.

2. Ukuran Buku.

Setelah mencoba beberapa buku dengan ukuran berbeda-beda, B5, A5 dan seterusnya. Saya merasa ukuran 14 cm x 21 cm adalah ukuran yang cocok buat saya. Ukuran yang menurut saya handy, terlepas dari brand apa saja. Bagi saya ukuran A5 terlalu lebar, meskipun sebenarnya ukurannya hanya berbeda sedikit dengan ukuran yang saya sebutkan. Tapi untuk sebuah buku, perbedaan beberapa mili cukup signifikan. Sementara untuk ukuran dibawah ukuran 14 cm x 21 cm (seperti midori atau traveler insert) bagi saya ukurannya terlalu sempit dan kurang mengakomodir kebutuhan saya.

3. Brand.

Bagi saya sebenernya brand bukanlah prioritas utama, tapi semenjak mencoba moleskine, saya mulai jatuh cinta padanya. Haha..
Tekstur kertas moleskine yang lembut dan tersedia dengan beberapa pilihan jenis patern makin membuat saya jatuh cinta. Yang membuat sedikit patah hati adalah harganya yang tergolong mahal bagi saya. (Walaupun pada akhirnya saya beli juga.. 😲).
Jenis kertas dan paternnya juga menjadi salah satu pertimbangan saya dalam membeli dan memilih planner peace. Kertas yang halus, tipis dan tidak mudah tembus oleh tinta adalah pilihan yang saya tetapkan dalam membuat planner peace.

4. Layout.

Try and Error adalah hal yang umum buat para bullet journalist. Setelah menggunakan bullet journal selama kurun waktu 2 tahun lebih, saya mulai menemukan definisi planner peace bagi saya sendiri. Layout vertikal yang berbasis mingguan adalah layout yang paling lama dan paling efektif buat saya. Seperti yang kita ketahui, Rapid logging dalam bullet journal bisa dituangkan dalam layout yang berbasis mingguan atau harian. Setelah mencoba beberapa layout saya bisa pastikan bahwa vertikal weekly layout is my planner peace. Haha..

Meskipun begitu, saya masih trus mencari apa saja hal yang bisa saya masukkan dalam rapid logging. Memories kah, to do list, tracker, financial tracker, ide ? Atau hal-hal lainya. Dan berikut ini adalah contoh beberapa vertical weekly saya, dengan isi dan format yang berbeda-beda.



Mengadaptasi layoutnya hobonichi dan jibun techo yang hampir serupa, saya mencoba menggunakan time frame. Dari jam 5 pagi (jam dimana saya memulai aktivitas) hingga jam 10 malam (jam istirahat). Pada layout tersebut diatas saya,
Saya isi tentang ide, to do list, memories dan untuk mempercantik layoutnya, saya tambahkan sticker.. Hihi..



Masih dengan cara dan layout yang sama, serta warna yang sama. Kenapa warnanya hampir semua yellow deep ?. Karena warna ini adalah color code untuk rapid logging.



Jika teman-teman melihat ada warna biru, warna tersebut adalah warna yang saya gunakan sebagai color code untuk self development challange. Dalam hal ini adalah reading log. Warna kuning dibawah warna biru adalah sebagai color code tentang knowledge. Dalam hal ini tentang jadwal belajar duolingo.



Gambar diatas hampir sama dengan gambar sebelumnya, hanya saja jadwal belajar saya sesuaikan karena bulan ini saya harus bolak-balik jakarta bogor.



Jika diperhatikan baik-baik, gambar diatas berbeda dengan 4 gambar sebelumnya. Karena gambar diatas tidak ada time frame seperti gambar sebelumnya. Pada gambar diatas, setiap hari hanya saya bedakan menjadi 3 bagian dengan warna sebagai penanda. 2 bagian berwarna biru adalah berisi task atau to do list untuk personal (morning and evening routine), dan 1 bagian berwarna orange untuk pekerjaan.
Sementara bagian kotak terbawah yang tidak berwarna saya isi tentang errand, note dan memories. Dan kotak teratas saya isi dengan ide atau gagasan yang muncul pada hari itu.



Sementara itu , gambar diatas lebih simple tanpa banyak warna color code. Dalam layout ini saya menggunakan warna merah sebagai memories atau notes.

Meskipun saya sudah mulai menemukan planner peace tapi bukan berarti saya berhenti mengeksplorasi. Jika dibandingan tujuan sebelumnya, kali ini saya lebih senang mengeksplorasi tentang sistem produktifitasnya.

Baiklah teman-teman.. Itu tadi sekelumit informasi tentang planner peace. Hihi.. Bagaimana dengan kalian.. ? Apakah sudah mulai mencari-cari tentang "planner peace" ? Atau masih ingin mengeksplorasi.. ? Apapun yang kalian lakukan yang terpenting bisa membuat kalian lebih produktif dan tentu saja lebih bahagia. Hehe..
Dan Informasi penting abad ini dalah ewafebri juga hadir di youtube. Hehe.. Dengan channel yang sama : ewafebri. Jangan lupa subscribe teman-teman.. Saya akan berusaha memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan bullet journal dll.

Sampai jumpa kembali di postingan selanjutnya.. Bye..

No comments: