Sunday, November 12, 2017

BULLET JOURNAL + PRODUCTIVITY METHOD



Selamat bertemu kembali dengan evva disini. Hihi..
Semenjak saya memutuskan untuk memberikan kehidupan dengan hiruk pikuk traffic di blog ini, saya harus membuat postingan berkala. Dan saya memutuskan untuk membuatnya berbasis mingguan.
Selain supaya trafficnya makin rame, juga supaya makin banyak informasi yang bisa saya bagikan kepada teman-teman pembaca tercinta di blog saya ini.

Membuat postingan berbasis mingguan, memaksa saya memutar otak (siapa yang maksa mbaaak.. ?) untuk mencari ide-ide yang bermanfaat untuk dibagikan. Terlebih ide-ide tersebut harus berhubungan dengan niche blog ini.

Ada 2 kemungkinan yang terjadi.

1. Teman-teman akan saya suguhi postingan yang itu-itu lagi.

2. Saya harus berusaha nyari ide yang kurang terlalu trend tapi masih berhubungan erat informasinya dengan niche blog ini. (Dan yang ini sangat sulit, haha.. ) karena ada proses mencari, mempelajari, memahami, mengimplementasi, baru kemudian membagi. (Halaaaah.. Ribeet).
Haha.. Iya.. 😂
Karena saya gak mau terjebak sama copas dan berakhir di bully sama netizen karena plagiasi (gak mau usaha sendiri). Hihi..

Sebelum membaca sampai habis, saya beri peringatan terlebih dahulu.

PERINGATAN !!!

Bullet Journal + Buku Self Development : BAHAYA

laaaah.. Kenapa.. ?

Mari kita bahas.


Pernahkah teman-teman berpikir

" Pake Bullet Journal udah, Tapi Kok Kerjaan masih numpuk gak habis-habis sih.. ! Hih.. ! "

Jangan kuatir. Saya juga dulu sering mikir begitu. Hihi..

Sampai kemudian saya menemukan cara bagaimana memotivasi diri sendiri untuk mengerjakan semua tugas yang ada.

Yang pertama dimiliki selain bullet journal adalah tekad. Tekad untuk mengerjakan masalah yang ada. Tanpa tekad, bullet journal hanyalah hamparan layout semata (halaaah.. Haha.. ).

Semua sistem planning, se-efektif dan se- efisien apapun, jika gak ada tekad untuk mengerjakan, Gak akan pernah berhasil. Hihi..
Setelah kita merevolusi mindset dengan tekad, mari kita bahas tentang sistem produktifitas penunjang lainnya.

1. GETTING THINGS DONE.

Pernah mendengar istilah ini.. ? Istilah ini sering digunakan bullet journalist sebagai patokan untuk membuat atau menentukan materi planningnya.
Getting Things Done sendiri dipopulerkan oleh David Allen. yang bertujuan untuk membantu kita mengorganisir pekerjaan yang ingin kita selesaikan.
Ada beberapa proses mendasar yang ditawarkan oleh metode Getting Things Done.

1. Capture

Capture adalah proses dimana kita menumpahkan semua unek-unek yang ada dikepala kita. Proses capture sendiri bisa diimplementasikan menjadi Braindump pada bullet journal. Semua hal bisa kita tuangkan disini. Dari to do list, wish list, pekerjaan tertunda, sedang berlangsung, atau bahkan ide-ide baru, semua bisa kita tuangkan di sini.

2. Clarify

Clarify adalah proses dimana kita mengklasifikasikan braindump. Dalam proses ini biasanya saya mulai mengklasifikasikan sesuai dengan 6 level of life . Karir, finansial, spiritual, pengetahuan, sosial, personal (self velopement, love/affection), kesehatan.
Dalam hal ini jenis klasifikasi bisa diklasifikasikan menurut kebutuhan teman-teman aja. Misal pekerjaan berbasis bulanan, mingguan, harian. Atau misal tentang personal, general projects, school. Wujud klasifikasinya bisa bermacam-macam tergantung kebutuhan.

3. Organize

Tahap ini adalah tahap memilah apakah hal tersebut diatas layak dilanjutkan, didelegasikan, atau dibuang. Ada 8 bucket/keranjang yang bisa kita gunakan sebagai acuan menurut GTD.

A. In The Trash
Jika project, benda, atau apapun itu yang sudah tidak relevan lagi. Kita taruh di bucket ini.

B. On the someday/maybe list.
Jika kita masih ingin melakukannya.  Tapi gak tahu pasti kapan akan dilakukan. Semisal, ingin D.I.Y tottebag. Karena gak ada waktu tapi masih pingin nyoba bikin, ini bisa ditaruh di bucket ini.

C. In The next Reference.
Yang ini sifatnya ingin banget dilakukan tapi tidak untuk waktu dekat. Misalnya : ada beberapa pilihan project yang ingin dilakukan. Kemudian kita buat list mana yang paling penting hingga yang biasa. Dari situ kita akan tahu mana yang tengah-tengah dan ingin dicoba. Nah, project tersebut bisa masuk ke dalam bucket ini.

D. On list task.
Yang ini adalah task yang sedang kita kerjakan. Untuk lebih memudahkan, selain ide, kita juga perlu menambahkan langkah yang akan kita ambil. Misal.
Hari ini bikin draft blog tentang metode produktifitas. Yang harus saya lakukan adalah :
· Browsing sebanyak-banyak tentang materi tersebut
· buat catatan
· mulai menulis sesuai dengan pengetahuan dan berbasis catatan.
· insert images.
· edit draft.
· schedule.
Step action seperti ini bertujuan untuk menciptakan progress pada project tersebut.

E. Immediately Complete.
Ini adalah bucket untuk pekerjaan yang bisa kita kerjakan dalam kurun waktu hanya kurang dari 2-5 menit saja.
Misalnya : ngelap meja, buang sampah, rapiin tempat tidur, nyuci piring.. Dll.

F. Delegate.
Ini adalah project yang cukup menyita waktu dan pikiran. Misalnya : jika teman-teman punya bisnis sendiri dan sudah mulai keteteran menangani sendiri, nah sudah saatnya beberapa hal didelegasikan kepada orang lain. Entah bikin laporan, menyiapkan keperluan. Dll.

G. Next action.
Bucket ini berisi tentang project yang akan dilakukan (dan pasti dilakukan) apabila project yang sedang berlangsung sudah selesai.
Misal : bikin draft blog selesai.
Next action.
· Publish Blog.
· share media sosial.

H. On your calendar.
Fungsi dari future log atau kalendar adalah untuk bucket yang seperti ini, misalnya : tidak ada hujan, tidak ada badai, tiba-tiba mantan ngasih undangan pernikahan untuk bulan depan. Yang seperti ini bisa di mark dikalendar atau masuk ke bucket in the trash.. (#eh).. Beebaaaaasss.. !! Hahha..

4. Reflect
Jika sudah masuk tahap ini, artinya kita sudah mulai melaksanakan/melakukan task yang sudah kita list diatas. Nah, tahap ini adalah tahap dimana kita mereview pekerjaan kita. Review bisa kita lakukan satu minggu sekali atau sebulan sekali. Manfaat review sudah pernah saya bahas di postingan Monthly Review. Silahkan, jika ingin belajar bagaimana membuat monthly review.

5. Engage.
Tahap ini adalah tahap dimana kita sudah mulai belajar untuk setia (bahasanya apa ya yang cocok.. Hmm.. Stick on it) terhadap sistemnya. Jika kita sudah pada tahap review, kita sudah mulai kembali pada tahap 1. Yaitu mencapture, kemudian mengklasifikasikan, mengorganisir, hingga merefleksi, dan begitu seterusnya. Saran saya tidak perlu menulis dari awal lagi. Kita hanya perlu mengetahui di bucket mana project tersebut akan diletakkan (tahap 3).

Baiklah.. Itu tadi tentang GTD, mari kita lanjut ke metode lainnya.

2. POMODORO TECHNIQUE

Pomodoro technique diciptakan oleh francesco cirillo pada tahun 90an. Teknik ini cukup terkenal dan digemari karena terbukti mampu meningkatkan produktifitas.
Caranya mudah :
Siapkan timer. Set timer 20 - 25 menit. Hanya dengan melakukan pekerjaan apapun itu selama 20 sampai dengan 25 menit tanpa henti, tanpa ada gangguan atau interupsi apapun (apalagi dari chatting, browsing, nonton tv, dll). Jika timer sudah bunyi sesuai dengan settingan kita, baru kemudian kita istirahat selama 5 menit. Bisa kita gunakan buat ngecek wassap, minum, ke toilet (lah.. pake dibahas..), dll.

3. EAT THAT FROG

Metode ini diciptakan oleh Brian Tracy. Berawal dari istilah ini :

" Eat a live frog in the morning and nothing worse will happen to you the rest of the day "

Hmm.. Nganu.. Jangan tanya saya artinya, hihi.. Lieur.
Saya akan jelaskan intinya saja ya.. ? Bahwasannya, Jika kita melakukan pekerjaan yang kita anggap menjengkelkan, bikin lelah, gak mungkin banget, bikin males (mikirinnya aja males), atau pekerjaan yang paling sering dapat predikat "ntar aja" di pagi hari, maka sisa hari kita selanjutnya akan lebih baik. Hihi..

Caranya :
1. Tulis semua hal yang ingin kita kerjakan.
2. Pilih atau tandai pekerjaan yang bikin kita sebel ngerjainnya.
3. Kerjakan pekerjaan yang bikin males justru di pagi hari. Hihi..

Misal : menyetrika , ini pekerjaan yang paling sering saya beri tanda " ntar aja ". Hihi..

4. SEINFIELD METHOD.

Seinfeild method dipopulerkan oleh jerry seinfeild. Ide utamanya adalah " Don't break The chain ".
Dalam metode seinfeild, kita diharapkan untuk melakukannya secara berkala atau terus menerus (berulang). Metode ini cocok digunakan untuk menciptakan sebuah habit atau kebiasaan (rutinitas).
Misal : menciptakan morning routine
· 4.30 am bangun
· 4.45 am kegiatan spiritual
· 5.15 am bikin kopi
· 5.30 am olah raga dst.
Usahakan melakukan setiap hari, dijam yang sama tanpa ada jeda hari. Dalam kurun waktu minimal 1 bulan InshaAllah akan tercipta Habit.

Itulah tadi 4 metode produktifitas yang bisa kita gunakan berbarengan dengan bullet journal kita.
Saya pribadi menggunakan 4 metode tersebut sekaligus. Hihi..

1. GTD saya gunakan untuk mengcapture, memilah, merorganisir, mereview semua pekerjaan secara umum.

2. Setelah tahap mengorganisir, saat inilah tahap saya untuk menentukan metode yang cocok untuk pekerjaan saya.

1. Pomodoro saya gunakan untuk pekerjaan yang mengandalkan fisik. Misal beberes gudang, konmari, mengorganisir barang-barang yang berbentuk fisik. Dll.

2. Eat that frog.
Setiap hari saya membuat list 3 pekerjaan penting yang harus saya selesaikan. 1 pekerjaan bersifat fisik dan tentu saja yang dapet predikat "males ngerjainnya". 2 diantaranya yang sifatnya tidak banyak mengeluarkan tenaga, misal input data, saya bisa mengerjakan sambil duduk. Nah yang dapet predikat inilah yang biasanya saya kerjakan lebih dulu. Selebihnya, tinggal yang sifatnya penting tapi lebih menyenangkan.

3. Seinfeild method

Metode seinfeild saya gunakan untuk project atau pekerjaan yang membutuhkan waktu yang lama. (Minimal 3 bulan). Misal : Reading challenge. Reading challenge membutuhkan waktu 1 tahun melengkapinya. Belajar bahasa baru juga buat saya butuh waktu lebih dari 3 bulan untuk mempelajarinya.
Karena itu saya membuat sistem yang berkesinambungan tapi tidak memakan waktu lama setiap harinya. Jika pomodoro butuh 25 menit, yang ini cukup 15 menit saja setiap hari. Misal membaca buku 15 menit setiap hari, belajar bahasa 15 menit menghafal setiap hari, 15 menit mencatat setiap hari dsb.

Jika kita terus menerus melakukan metode ini, makin lama mindset kita terbentuk, dan tanpa kita sadari, secara otomatis kita mampu mengklasifikasikan pekerjaan dan menentukan metode mana yang cocok kita terapkan.
Contoh dari pencampuran beberapa teknik sekaligus disebut A Hybrid atau Custome method.

Baiklah teman-teman udah mulai panjang ini postingannya. Dan jari udah mulai ngilu ngetiknya. Maklum ngetiknya pake jempol doank, haha.. Plus layar hapenya udah mulai bikin ngilu mata (?). Hihi..

Jika ada pertanyaan, monggo silahkan.
See you next time.. 

No comments:

ewafebri newsletter